VOICEINDONESIA.CO, Jakarta — Tragedi ledakan di Masjid SMAN 72 Jakarta pada Jumat (7/11), yang melukai puluhan orang disebut SETARA Institute sebagai bentuk ekstremisme kekerasan yang patut diwaspadai.
Lembaga ini menegaskan, kasus tersebut bukan sekadar kriminalitas, melainkan indikasi terorisme yang lahir dari keterpaparan ideologi berbahaya di usia muda.
“Tragedi ini mesti dicatat sebagai peringatan bahwa permasalahan ekstremisme berbasis kekerasan di usia dini masih lah besar dalam tata kebinekaan Indonesia,” ujar Direktur Eksekutif SETARA Institute, Halili Hasan, dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Minggu (9/11/2025).
Halili juga menyoroti hasil survei tahun 2023 yang menunjukkan 24,2% remaja tergolong intoleran pasif, 5% intoleran aktif, dan 0,6% telah terpapar ideologi ekstremisme. Angka ini meningkat tajam dibanding survei 2016.
Dalam survei tersebut, meskipun toleransi di kalangan remaja SMA tinggi yaitu 70,2%, tadi terjadi peningkatan cukup tajam pada kategori intoleran aktif dibandingkan survei serupa sebelumnya pada 2016, dari 2,4% menjadi 5,0%, dan pada kategori terpapar dari 0,3% menjadi 0,6%.
“Dalam pandangan SETARA Institute, sejauh ini agenda dan program pencegahan yang dilakukan untuk mengatasi tantangan percepatan intoleran aktif dan remaja terpapar belum efektif dan cenderung melemah dalam pemerintahan Prabowo Subianto, yang barangkali dipengaruhi oleh fakta objektif ‘nol serangan teroris’ dan program efisiensi dalam tata kelola anggaran,” tutur Halili.
Menurut SETARA, lemahnya efektivitas program pencegahan di era pemerintahan Prabowo Subianto menjadi faktor menurunnya kewaspadaan publik terhadap bahaya ekstremisme, terutama di lingkungan pendidikan.
Lembaga tersebut mendesak pemerintah mengaktifkan kembali Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAN-PE) serta mendorong sekolah menjadi ruang aman dari perundungan (bullying) dan radikalisme.
“Perundungan tidak boleh ditoleransi. Ia bisa menjadi pintu masuk menuju ekstremisme kekerasan,” tegasnya.

