Di bawah terik matahari, ribuan buruh dari berbagai serikat pekerja memadati jalanan di depan Gedung DPR-MPR. Mereka datang dengan satu tujuan: menyuarakan enam tuntutan utama yang berkaitan dengan kesejahteraan buruh di seluruh Indonesia.
Aksi yang dimulai sejak pagi hari ini berjalan damai. Orasi-orasi lantang dan spanduk berisi tuntutan seperti “Hapus Outsourcing, Tolak Upah Murah” serta “Sahkan RUU Ketenagakerjaan Tanpa Omnibus Law” menjadi pemandangan utama. Mereka juga menuntut revisi RUU Pemilu 2029 dan pengesahan RUU Perampasan Aset untuk memberantas korupsi.
Menurut koordinator aksi, Said, mereka memastikan bahwa demonstrasi ini akan berjalan tanpa aksi anarkis. Namun, suasana berubah drastis setelah rombongan buruh mulai membubarkan diri sekitar pukul 14.00 WIB.
Peralihan Aksi dan Datangnya Mahasiswa
Saat massa buruh berangsur-angsur meninggalkan lokasi, sekelompok mahasiswa dari berbagai kampus mulai berdatangan. Mereka meneruskan aksi unjuk rasa dengan semangat yang tak kalah menyala. Sambil membawa spanduk bertuliskan “Rakyat Lawan Oligarki” dan “Pancasila Kawal Demokrasi,” mereka menyanyikan lagu-lagu perjuangan.
Suasana semakin memanas. Orator dari mobil komando menyerukan yel-yel keras, bahkan ada yang menuntut pembubaran DPR. Kondisi mulai tidak terkendali saat sekelompok massa tak dikenal, yang berpakaian bebas dan beberapa di antaranya terlihat mengenakan seragam sekolah, bergabung. Mereka diduga sebagai penyusup yang sengaja memicu kericuhan.
Puncak Kericuhan dan Respons Aparat
Pukul 15.00 WIB, situasi benar-benar pecah. Massa anarkis mulai memanjat pagar tol dan gerbang utama Gedung DPR, bahkan melemparkan benda keras, kembang api, dan batu ke arah aparat kepolisian. Mereka juga melakukan vandalisme dengan mencoret-coret tembok.
Aparat kepolisian merespons dengan melepaskan tembakan gas air mata dan menyemprotkan water cannon untuk membubarkan massa. Kericuhan tak terhindarkan. Massa berhamburan ke jalan-jalan sekitar Senayan, termasuk ke Jalan Asia Afrika. Beberapa orang terlihat membawa tongkat dan kayu.
Polisi berulang kali mengimbau massa untuk membubarkan diri. Hingga malam hari, aparat terus memukul mundur massa yang masih bertahan, dan situasi di Jalan Asia Afrika berangsur normal.
Massa Bertahan Hingga Dini Hari
Meskipun sebagian besar massa telah mundur, beberapa peserta demonstrasi dilaporkan masih bertahan hingga dini hari di kawasan Mako Brimob. Mereka tetap kukuh menuntut agar aspirasi mereka didengar.
Pihak kepolisian juga berhasil mengamankan ratusan pelajar yang terprovokasi melalui media sosial untuk bergabung dalam aksi. Mereka dicegat dan sebagian kedapatan membawa benda-benda berbahaya.
Secara keseluruhan, demonstrasi yang semula berjalan damai ini berujung ricuh karena adanya penyusup dan massa yang bertindak anarkis. Peristiwa ini tidak hanya mengganggu aktivitas warga dan lalu lintas, tetapi juga menyisakan pertanyaan besar tentang siapa dalang di balik kericuhan tersebut.