VOICEINDONESIA.CO, Jakarta - Lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) yang ingin bekerja di luar negeri kini dapat mengakses Kredit Usaha Rakyat Pekerja Migran tanpa agunan dengan bunga hanya 6 persen per tahun yang disubsidi pemerintah.
Skema KUR ini memberikan peluang bagi lulusan SMK untuk memenuhi biaya penempatan kerja ke luar negeri hingga Rp100 juta per orang. Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Christina Aryani menyampaikan program ini akan diluncurkan secara serentak pada Maret 2026 di seluruh Indonesia.
"Masing-masing bank siap menyalurkan KUR Pekerja Migran hingga Rp100 juta per orang, dengan bunga hanya 6 persen per tahun yang disubsidi pemerintah. Skema ini tanpa agunan, tapi kontrak kerja menjadi syarat utama," katanya pada Rabu (4/2/2026).
Program ini melibatkan 17 bank penyalur dengan total plafon pembiayaan mencapai Rp331 miliar untuk membantu calon pekerja migran yang selama ini terkendala biaya penempatan. KUR Pekerja Migran dirancang untuk menghilangkan hambatan pembiayaan bagi lulusan SMK yang telah mengikuti pelatihan.
Peluang penempatan kerja sangat beragam mulai dari negara konvensional seperti Malaysia, kawasan Timur Tengah, Jepang, Korea Selatan, hingga negara-negara Eropa Timur. Salah satu peluang besar datang dari Turki yang tahun ini diperkirakan memerlukan hingga 40 ribu pekerja terutama di sektor hospitality.
"Di banyak negara, kebutuhan caregiver dan welder (juru las) sangat tinggi, sementara tenaga lokal mereka terbatas," kata Christina.
Baca Juga : Disnaker Kabupaten Tangerang Buru Agen PMI Ilegal
Indonesia memiliki keunggulan karena semakin banyak sekolah vokasi yang membuka pelatihan keterampilan pengelasan dan bidang lain yang dibutuhkan pasar kerja global. Peluang ini menjadi harapan bagi lulusan SMK untuk mendapat pekerjaan dengan penghasilan lebih baik di luar negeri.
Target Program SMK Go Global mencapai 500 ribu orang yang terdiri atas 300 ribu lulusan SMK dan 200 ribu sisanya dari umum. Christina menyebut target tersebut dinamis dan akan disesuaikan dengan kesiapan peserta serta durasi pelatihan.
"Pelatihan bahasa bisa memakan waktu 3 hingga 6 bulan, pelatihan keterampilan seperti welder juga membutuhkan waktu," ujarnya.
Program ini dirancang fleksibel dengan mengombinasikan peserta yang sudah memiliki keterampilan dengan yang masih perlu pelatihan tambahan. Kementerian telah melakukan uji coba penempatan sebanyak 200 pekerja terampil ke Korea Selatan pada akhir 2025 dan 21 ribu orang telah diberangkatkan melalui skema reguler pada Januari-Februari 2026.
"Untuk SMK Go Global, kami masih menunggu persetujuan dari Kementerian Keuangan. Begitu itu selesai, program ini siap dijalankan," pungkasnya. (Sin/Ri)
Pilihan Redaksi : Menakar Urgensi Transformasi Total KemenP2MI demi Perlindungan Paripurna
Baca Berita Lainnya di Google News