VOICE Indonesia
HOT
News

Pengamat Sebut Bangkai Kapal Batumandi Berisiko Cemari Laut

S Nurafifa - VOICEIndonesia.coEditor: Abdulloh Hilmi4 menit baca

Ringkasan Berita

AI
VOICE Indonesia di Google
pengamat maritim Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas RI Strategic Centre (IKAL SC) Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa.
Pengamat maritim Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas RI Strategic Centre (IKAL SC) Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa.(Foto: Voiceindonesia.co/dok. Pribadi)

VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Pengamat maritim Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas RI Strategic Centre (IKAL SC) Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa mengatakan bangkai KMP Batumandi di alur masuk Pelabuhan Merak, Banten, menyimpan risiko pencemaran laut dan gangguan navigasi. Kapal milik PT ASDP Indonesia Ferry itu tenggelam Rabu (21/10/2026) sekitar pukul 20.54 WIB, setelah terbakar sejak Selasa (20/10/2026) sore.

Kapal lintasan Merak dan Bakauheni itu mengangkut 420 penumpang dan 40 awak. Seluruhnya dilaporkan selamat dengan bantuan puluhan kapal nelayan, sedangkan 89 kendaraan ikut tenggelam.

Hakeng mengingatkan tugas penanganan belum selesai begitu seluruh penumpang dievakuasi.

“Risiko pencemaran laut, gangguan navigasi, dan bahaya yang ditimbulkan bangkai kapal harus ditangani secara sistematis,” kata Capt. Hakeng kepada VOICEINDONESIA.CO, Kamis (22/10/2026).

Jika bahan bakar atau minyak pelumas berpotensi bocor, Hakeng menyebut oil boom dan oil skimmer layak dipakai sesuai kondisi lapangan. Pihak penanggulangan pencemaran dan perusahaan penyelamatan kapal (salvage) juga perlu dilibatkan untuk merancang penanganan bangkai secara aman.

Pelampung penanda dipasang di sekitar lokasi tenggelamnya kapal untuk menekan risiko navigasi. Rencana mengangkat atau memindahkan bangkai harus dikoordinasikan dengan otoritas terkait agar keselamatan pelayaran, perlindungan lingkungan, dan kebutuhan investigasi berjalan seiring.

Hakeng menilai ukuran keberhasilan penanganan kecelakaan kapal lebih luas daripada soal cepatnya evakuasi.

“Keberhasilan penanganan kecelakaan maritim tidak hanya diukur dari seberapa cepat penumpang dievakuasi, tetapi juga dari kemampuan mengendalikan risiko lanjutan, mengungkap penyebab kejadian secara objektif, dan menerapkan perbaikan agar insiden serupa tidak terulang,” ujar Capt. Hakeng.

Hakeng menyebut pelajaran utama insiden ini adalah menyatukan seluruh unsur keselamatan dalam satu sistem penanganan krisis. Penyelamatan korban, pemadaman api, kendali stabilitas, pengamanan barang bukti, dan perlindungan lingkungan tidak bisa dipisahkan.

Ia menegaskan memadamkan api saja tidak cukup. Penanganan harus sekaligus menyelamatkan korban, menjaga stabilitas kapal, menaati prosedur hukum, dan menekan dampak lingkungan. Menurutnya, tenggelamnya Batumandi menjadi momentum menguji ulang sistem keselamatan dan manajemen krisis pelayaran nasional.

Hakeng menggolongkan kebakaran di kapal sebagai darurat paling rumit di laut. Ruang yang sempit, bahan bakar, mesin, instalasi listrik, dan kendaraan yang diangkut membuat api cepat membesar dan sulit dijinakkan. Meski begitu, ia menempatkan nyawa manusia di atas segalanya.

“Dalam keadaan darurat di laut, keselamatan manusia harus menjadi prioritas utama. Namun, upaya penyelamatan juga harus memperhitungkan kondisi teknis kapal, stabilitas, keselamatan kapal lain, dan risiko terhadap lingkungan. Semua keputusan harus didasarkan pada penilaian situasi yang cermat,” ujar Capt. Hakeng.

Hakeng juga menilai lokasi evakuasi dan pemadaman harus dipilih cermat. Pertimbangannya meliputi jarak ke dermaga, ramainya lalu lintas kapal, cuaca, arah angin, arus laut, dan akses tim penyelamat.

“Penanganan kebakaran kapal di kawasan pelabuhan memiliki risiko berlapis. Selain mengancam penumpang dan awak, kejadian tersebut dapat mengganggu operasional pelabuhan dan membahayakan kapal lain. Karena itu, pemilihan lokasi penanganan harus mempertimbangkan seluruh risiko tersebut,” katanya.

Soal pemadaman, Hakeng mengingatkan bahwa mengguyur kapal dengan air sebanyak mungkin belum tentu tepat. Air yang tertahan di lambung mengganggu keseimbangan dan daya apung.

Ia menjelaskan free surface effect, yaitu air yang bergerak bebas di tangki atau kompartemen sehingga menurunkan stabilitas, terlebih ketika kapal sudah miring. Pada kondisi tertentu, genangan itu bisa memperparah kemiringan dan membuat kapal terbalik.

“Petugas harus memperhitungkan hubungan antara proses pemadaman dan stabilitas kapal. Api memang harus segera dikendalikan, tetapi dampak air terhadap keseimbangan kapal juga tidak boleh diabaikan. Inilah salah satu tantangan terbesar dalam penanganan kebakaran di laut,” jelas Capt. Hakeng.

Api yang sudah padam, kata Hakeng, belum menjamin kapal aman. Struktur kapal yang masih panas perlu didinginkan agar api tidak menyala lagi, dan petugas wajib mengecek gas beracun serta zat berbahaya sebelum masuk ruang tertutup.

Penyebab kebakaran kapal umumnya antara lain kelalaian manusia, masalah mekanis, kerusakan kelistrikan, dan muatan yang mudah terbakar. Hakeng menegaskan semua itu baru kemungkinan umum dan belum bisa dituding sebagai penyebab kebakaran KMP Batumandi sebelum hasil investigasi resmi keluar.

Soal tenggelamnya kapal, Hakeng menyebut beberapa hal yang saling terkait bisa menghilangkan daya apung. Struktur bisa rusak karena panas ekstrem, lambung bocor, air laut masuk, dan pompa pembuangan gagal bekerja.

Jika kelistrikan dan permesinan rusak, pompa tak bisa beroperasi. Gangguan kemudi juga membuat kapal sulit bertahan di posisinya saat diterpa angin dan arus. Hakeng menegaskan semua dugaan itu harus dibuktikan lewat pemeriksaan teknis, data operasional, dan analisis kondisi bangkai kapal, bukan asumsi.

Ia meminta investigasi merunut kejadian dan hasilnya dipakai untuk membenahi sistem keselamatan.

“Investigasi harus mampu menjelaskan urutan kejadian secara menyeluruh, mulai dari sumber kebakaran, perkembangan api, kondisi kapal selama penanganan, hingga faktor yang menyebabkan kapal kehilangan daya apung. Hasilnya harus menjadi dasar perbaikan sistem keselamatan, bukan sekadar penjelasan mengenai satu kecelakaan,” tegas Capt. Hakeng.

Hakeng menilai selamatnya seluruh penumpang dan awak layak jadi sorotan utama dan menunjukkan pentingnya kesiapan menghadapi keadaan darurat. Namun, keberhasilan itu perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan peralatan keselamatan, kompetensi awak, sistem komunikasi, dan koordinasi dengan unsur penyelamat.

Ia meminta pelaku pelayaran menjadikan setiap kecelakaan bahan evaluasi demi budaya keselamatan, lewat pelatihan rutin, simulasi kebakaran, pengecekan peralatan, dan prosedur evakuasi yang sudah teruji.

Pilihan Redaksi

Lulusan Vokasi Dijajaki Kerja di Tambang dan Migas SurinamePekerja Migran Indonesia

Lulusan Vokasi Dijajaki Kerja di Tambang dan Migas Suriname

S Nurafifa· 22 October 2026
#Marcellus Hakeng Jayawibawa#KMP#KMP terbakar
Lihat berita ini di Google News
Ikuti VOICE Indonesia di Google News untuk update terbaru
Channel WhatsApp
Dapatkan Berita VOICE Indonesia Langsung di WhatsApp
Follow

⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.

Baca Juga

Komentar (0)

Login dulu untuk meninggalkan komentar.