Prabowo Sebut Belanda Jadi Negara Terkaya Setelah Ratusan Tahun Kuasai Indonesia
VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Pernyataan keras ini disampaikan Prabowo dalam pidatonya saat menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027 di Rapat Paripurna DPR RI pada Rabu (20/5/2026). Presiden mengajak seluruh pemimpin bangsa untuk belajar dari sejarah penjajahan Indonesia.
"Negara Netherlands Belanda dari sejak tahun 1500, dilanjutkan 1600, dilanjutkan 1700, dilanjutkan 1800 memiliki PDB per kapita tertinggi di dunia selama itu," katanya.
Prabowo menjelaskan Belanda yang secara geografis merupakan negara kecil bisa memiliki PDB tertinggi di dunia karena menguasai Nusantara. Dari utara ke selatan Belanda mungkin tidak sampai 8 jam naik kendaraan, dari laut ke perbatasan mereka mungkin tidak sampai 4 jam dengan kendaraan.
"Bisa memiliki PDB tertinggi di dunia. Kenapa? Karena mereka menguasai Nusantara kita. Mereka menguasai wilayah yang sekarang adalah Republik Indonesia," tegasnya.
Presiden mengajak bangsa Indonesia untuk tidak terlalu kagum kepada bangsa-bangsa yang kaya dari merampas kekayaan bangsa lain. Indonesia tidak boleh rendah diri dan selalu mengagumi apa yang mereka ajarkan padahal mereka sendiri tidak menjalankan apa yang mereka ajarkan.
"Hendaknya janganlah kita terlalu kagum kepada bangsa-bangsa yang kayanya dari merampas kekayaan bangsa-bangsa lain," ujarnya.
Prabowo menegaskan tidak mengajak bangsa Indonesia untuk membenci siapapun atau membenci bangsa lain. Indonesia harus tetap belajar, namun juga harus belajar dari sejarah agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
"Saya tidak mengajak kita untuk membenci siapapun, saya tidak mengajak kita membenci bangsa-bangsa lain, tidak. Bahkan saya mengajak kita belajar, tapi juga kita harus belajar dari sejarah," katanya.
Presiden mengingatkan ada adagium bahwa mereka yang tidak belajar dari sejarah akan dihukum oleh sejarah dan akan mengulangi sejarah kelam yang sama yang dialami oleh nenek moyang mereka. Adagium ini terjadi di banyak negara di dunia.
Para pendiri bangsa Indonesia sadar bahwa apabila pemimpin-pemimpin di Nusantara lemah dan tidak bersatu, maka kekayaan Nusantara akan terus diambil oleh kekuatan-kekuatan di luar Nusantara. Ini adalah fakta sejarah yang terjadi dan harus dipelajari.
"Para pendiri bangsa kita sadar bahwa apabila pemimpin-pemimpin di Nusantara kita lemah, apabila pemimpin-pemimpin di Nusantara tidak bersatu, maka kekayaan Nusantara akan terus diambil oleh kekuatan-kekuatan di luar Nusantara," ujarnya.
Karena kesadaran sejarah tersebut, para pendiri bangsa dipimpin Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir dan tokoh-tokoh yang menyusun Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 telah menetapkan cetak biru perekonomian bangsa. Cetak biru itu dituangkan dalam Pasal 33 UUD 1945.
Prabowo menegaskan keyakinannya bahwa apabila Indonesia menjalankan Pasal 33 UUD 1945 dengan baik, murni dan konsekuen, negara akan memiliki sumber daya yang cukup untuk menjamin Indonesia menjadi negara yang makmur dan adil.
"Saya ingin tegaskan hari ini, keyakinan saya bahwa apabila kita menjalankan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, kita jalankan dengan baik, kita jalankan dengan murni dan konsekuen, negara kita akan memiliki sumber daya yang cukup untuk menjamin Indonesia sungguh-sungguh akan menjadi negara yang makmur, yang adil," tegasnya.
Pilihan Redaksi
NasionalPrabowo Kembali "Remehkan" Pelamahan Kurs Rupiah Terhadap Dollar
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bukan sekadar dokumen administrasi keuangan, melainkan instrumen perjuangan mutlak untuk melindungi rakyat dan menjamin kesejahteraan nasional. Sejalan dengan visi tersebut, Kepala Negara mematok target agresif
Suka artikel ini? Beri apresiasi untuk sang penulis.
Berikan tanda suka secara gratis, atau kirim tips agar penulis tetap semangat.
⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.




























