VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Indonesia akan menjadi tuan rumah World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 yang berlangsung di Jakarta pada 21–23 Oktober 2026. Hingga lima hari menjelang pelaksanaan, sebanyak 2.044 peserta dari 58 negara dan tujuh organisasi internasional telah mengonfirmasi kehadiran.
Konferensi ekonomi kreatif internasional yang memasuki penyelenggaraan kelima ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat diplomasi ekonomi kreatif, memperluas akses pasar bagi pelaku industri kreatif, serta mendorong kolaborasi global.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengatakan Indonesia memiliki posisi strategis sebagai penggagas WCCE sejak pertama kali diselenggarakan di Bali pada 2018. Indonesia juga merupakan pemilik kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) atas penyelenggaraan forum tersebut.
Setelah digelar di Dubai, Uni Emirat Arab, pada 2021, Bali pada 2022, dan Tashkent, Uzbekistan, pada 2024, WCCE kembali ke Indonesia untuk melanjutkan perannya sebagai forum diplomasi ekonomi kreatif dunia.
“Indonesia kembali menjadi tuan rumah WCCE karena memiliki rekam jejak dalam menginisiasi dan mengembangkan forum internasional ini menjadi platform diplomasi ekonomi kreatif dunia. Kami ingin melanjutkan kontribusi tersebut dengan mempertemukan pemerintah, pegiat industri, investor, akademisi, komunitas, media, dan mitra internasional untuk memperkuat posisi ekonomi kreatif dalam agenda pembangunan global,” ujar Teuku Riefky.
Salah satu agenda utama WCCE 2026 adalah penyusunan Jakarta Vision on Creative Economy. Dokumen ini diharapkan menjadi landasan pengembangan ekonomi kreatif global setelah berakhirnya periode Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) pada 2030.
Dokumen tersebut akan berfokus pada empat pilar, yakni teknologi, kecerdasan artifisial (AI), dan transformasi digital; keberlanjutan, ekonomi sirkular, dan desain regeneratif; kekayaan intelektual dan hak pekerja kreatif; serta inklusivitas, ekosistem kreatif, dan pemberdayaan komunitas.
Teuku Riefky berharap konferensi ini menghasilkan tindak lanjut konkret, mulai dari penguatan jejaring internasional dan peluang investasi hingga perluasan akses pasar serta komersialisasi kekayaan intelektual bagi pelaku ekonomi kreatif Indonesia.
“Melalui Jakarta Vision on Creative Economy, kami ingin memastikan ekonomi kreatif tidak hanya menjadi sumber pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagian dari solusi atas tantangan pembangunan global,” katanya.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyambut baik penyelenggaraan WCCE 2026. Menurutnya, forum tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat posisi Jakarta dalam jejaring kota kreatif dunia sekaligus mendorong pertukaran pengalaman dalam pengembangan ekonomi kreatif perkotaan.
“Ekonomi kreatif sudah menjadi engine of growth bagi sebuah kota. Harapannya, menghadirkan gubernur atau wali kota dari berbagai kota dunia seperti Busan, akan memberikan nilai tambah bagi WCCE melalui pertukaran pengalaman dan praktik baik dalam mengembangkan ekonomi kreatif di tingkat perkotaan,” ujar Pramono.
Selain konferensi, rangkaian kegiatan WCCE 2026 mencakup sesi pleno, pertemuan tingkat menteri, pertemuan bilateral, serta forum kolaborasi dan promosi karya kreatif.
Kegiatan Creativillage juga akan digelar pada 21–25 Oktober 2026 untuk membuka ruang lebih luas bagi masyarakat dan pelaku ekonomi kreatif dalam mengenal, menikmati, serta mempromosikan produk dan karya kreatif Indonesia.
Mengusung tema “Inclusively Creative: Collective Continuity”, WCCE 2026 menekankan pentingnya inklusivitas, kolaborasi, dan keberlanjutan dalam membangun masa depan ekonomi kreatif.
Kementerian Ekonomi Kreatif berharap penyelenggaraan konferensi ini tidak hanya memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem ekonomi kreatif global, tetapi juga menghasilkan kemitraan, peluang usaha, pertukaran pengetahuan, dan rekomendasi kebijakan yang berdampak nyata bagi industri kreatif nasional. (rnm)























