
Hantavirus Mulai Menyebar, WHO Mulai Buka Suara Terkait Usulan Larangan Perjalanan

VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memastikan bahwa Hantavirus tidak menimbulkan risiko penularan luas dan tidak memerlukan pembatasan perjalanan.
Kepala Kantor WHO Eropa, Hans Kluge, menjelaskan bahwa infeksi Hantavirus biasanya terjadi akibat paparan lingkungan, khususnya melalui kontak dengan urine atau feses hewan pengerat yang terinfeksi.
“Infeksi Hantavirus umumnya terkait paparan lingkungan, seperti kontak dengan urine atau feses hewan pengerat yang terinfeksi. Meski dalam beberapa kasus bisa parah, virus ini tidak mudah menular antarmanusia," ujar Kluge melalui platform X pada Senin.
Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan terhadap penyakit ini.
“Risiko bagi masyarakat luas tetap rendah. Tidak ada alasan untuk panik atau melakukan pembatasan perjalanan.”
Hantavirus merupakan kelompok virus yang ditularkan terutama oleh hewan pengerat, seperti tikus, dan dapat menyebabkan dua jenis penyakit utama pada manusia, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Penularan umumnya terjadi saat seseorang menghirup partikel virus dari udara yang terkontaminasi kotoran, urine, atau air liur hewan pengerat. Penularan melalui gigitan juga dapat terjadi, meski jarang.
Gejala awal infeksi Hantavirus biasanya meliputi demam, nyeri otot, sakit kepala, pusing, serta gangguan pencernaan seperti mual dan muntah. Pada kasus yang berkembang menjadi HPS, penderita dapat mengalami gangguan pernapasan serius akibat penumpukan cairan di paru-paru. Sementara itu, HFRS lebih sering menyerang ginjal dan dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal hingga perdarahan.
Hingga saat ini belum terdapat pengobatan antivirus spesifik untuk Hantavirus. Penanganan medis difokuskan pada perawatan suportif, termasuk terapi oksigen dan penanganan komplikasi. Deteksi dan penanganan dini menjadi faktor penting dalam meningkatkan peluang kesembuhan pasien.
Upaya pencegahan terutama dilakukan dengan menghindari paparan terhadap hewan pengerat, menjaga kebersihan lingkungan, serta memastikan penyimpanan makanan yang aman agar tidak menarik tikus.
Sebelumnya, laporan menyebutkan tiga orang meninggal dunia dalam dugaan wabah Hantavirus di kapal MV Hondius yang berlayar dari Argentina menuju Tanjung Verde.
Pilihan Redaksi
ImigrasiBantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani
⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.
Baca Juga


Martina Ayu Pratiwi, Ratu Triathlon Indonesia di SEA Games Siap ke Panggung Dunia
24 Desember 2025 pukul 02.04


Komentar (0)
Login dulu untuk meninggalkan komentar.
Paling Banyak Dibaca

BNN Jatim Gagalkan Penyelundupan 5,4 Kilogram Sabu dari Malaysia
Daerah

Selat Hormuz Tetap Ditutup Sebelum AS Terima Syarat dari Iran
Internasional

Bansos Bakal Disalurkan Lewat Kopdes
Ekonomi

RI Usul Keterampilan Masa Depan Jadi Salah Satu Fokus Kerja Sama BRICS
Ketenagakerjaan

Bantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani
Imigrasi
Editorial

Darurat TPPO: Kedubes Arab Saudi Harus Ikut Bertanggungjawab
Editorial

Mengawal Hak Asasi Pelaut Kita dan Peran Vital SPPI di Laut Lepas Taiwan
Editorial

Manipulasi Dokumen: Awal Petaka Pekerja Migran Indonesia
Editorial

Kawal Revisi UU PPMI Demi Keselamatan Pekerja Migran
Editorial

Darurat Mafia Paspor, Dirjen Imigrasi Harus Tegas
Editorial
Komentar Terbaru
Belum ada komentar.
