VOICEINDONESIA.CO, Istanbul – Teheran tidak gentar ataupun terintimidasi oleh tindakan Amerika Serikat (AS) dan siap bertempur maupun bernegosiasi, kata Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.
Ghalibaf menyampaikan pernyataan itu dalam sidang parlemen, Minggu (4/10/2026). Ia menyebut Iran menghadapi AS dengan kekuatan militer sekaligus jalur diplomasi.
“Kami hadir di medan tempur militer dengan segenap kekuatan kami dan akan menghadapi mereka dengan kejutan-kejutan baru. Kami menggunakan instrumen diplomasi untuk menegaskan keunggulan kami di bidang militer dan memperjuangkan hak-hak rakyat Iran,” kata Ghalibaf.
Ghalibaf menyatakan Washington menyampaikan sejumlah usulan lewat mediator. Usulan itu datang setelah Teheran mengajukan peta jalan tujuh hari untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Ia menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sebelum tujuh syarat dari Teheran terpenuhi. Syarat itu berdasar Memorandum Islamabad, yakni kesepakatan kerangka kerja yang dicapai pada Juni.
Sebelumnya, pada bulan lalu, Iran menyampaikan persyaratan resmi kepada AS lewat mediator Qatar untuk mengakhiri perang yang dimulai pada 28 Februari. Persyaratan itu mencakup penghentian permusuhan di semua lini, pencairan dana Iran yang dibekukan, dan penghentian blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran.
Upaya mengakhiri perang berlangsung sejak AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman pada Juni. Nota itu mengatur langkah segera untuk memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz dan menangani program nuklir Iran.



























