
BP3MI dampingi pemulangan 105 PMI melalui Pelabuhan SBP Tanjung pinang

VOICEINDONESIA.CO,Jakarta - Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Kepulauan Riau (Kepri) mendampingi pemulangan 105 orang pekerja migran Indonesia (PMI) non-prosedural dari Malaysia ke tanah air melalui Pelabuhan Internasional Sri Bintan Pura (SBP) Tanjung pinang.
Pengantar Kerja Ahli Madya BP3MI Kepri Darman Sagala memerinci 105 PMI yang dipulangkan meliputi 64 orang laki-laki, 40 orang perempuan, dan seorang anak balita perempuan dari salah seorang PMI perempuan yang lahir di Malaysia.
"Para PMI ini diangkut menggunakan kapal cepat dari Johor Bahru, dengan pengawalan ketat dari pihak Imigrasi Malaysia serta perwakilan KJRI di negara tetangga," kata Darman di Pelabuhan Internasional SBP Tanjungpinang, Kamis.
Darman menyampaikan para PMI tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Pulau Jawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), Riau, dan dua orang di antaranya merupakan warga asal Kepri dari Kabupaten Lingga. Mereka rata bekerja di restoran, membuat kue, hingga konstruksi.
Baca Juga : Menteri PPMI Bantu Migran Nonprosedural Dapatkan Kembali Ijazahnya
Sebelum dipulangkan ke Indonesia, mereka terlebih dulu menjalani masa tahanan atau dipenjara akibat tertangkap aparat keamanan berwenang di Malaysia yang dipicu bekerja secara ilegal atau tanpa dokumen resmi.
"Setelah sampai di Tanjungpinang, mereka ditampung dulu di rumah perlindungan dan trauma center (RPTC) untuk pendataan, baru kemudian dipulangkan ke daerah masing-masing," ujar Darman.
Sementara, salah seorang PMI perempuan asal Kediri, Jawa Timur, Ririn, mengaku bekerja di restoran atau rumah makan di Malaysia selama kurang lebih tiga tahun. Sebelumnya, ia juga pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
Sebagai pelayan restoran, Ririn mendapat gaji sekitar 80 ringgit Malaysia atau setara sekitar Rp280 ribu per hari. Uang gaji itu dikumpul lalu dikirimkan untuk memenuhi kebutuhan anak serta orangtua-nya di kampung halaman.
"Selama kerja restoran, makan dan minum ditanggung majikan," ujarnya.
Ririn mengaku ditangkap aparat keamanan Malaysia karena tidak memiliki paspor. Setelah itu, ia ditahan atau dipenjara selama sekitar satu bulan di Pekan Nanas, Johor Bahru. Baru kemudian dipulangkan ke Indonesia.
"Saya awalnya masuk ke Malaysia melalui Batam menggunakan paspor pelancong, tapi sesampai-nya di sana langsung matikan paspor dengan maksud untuk bekerja," ujar Ririn. *
Pilihan Redaksi
NasionalAnggaran Penanganan Korban di Komnas Perempuan Jadi Sorotan
⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.
Baca Juga
Komentar (0)
Login dulu untuk meninggalkan komentar.
Paling Banyak Dibaca

Dugaan TPPO dan Lalainya Negara Terhadap Ruhyani
Lipsus

Bahlil: Blok Masela Serap 12 Ribu Tenaga Kerja, Prioritaskan Putra Daerah Maluku
Ketenagakerjaan

Dua Pelaut India Tewas di Selat Hormuz, New Delhi Larang Kapalnya Lewati Selat
Internasional

Produsen Kosmetik Ilegal di Kota Malang dan Kediri Digerebek
Daerah

Jersey Pramusim 2026 persembahan untuk legenda Persebaya Eri Irianto
Olahraga
Editorial

Darurat TPPO: Kedubes Arab Saudi Harus Ikut Bertanggungjawab
Editorial

Mengawal Hak Asasi Pelaut Kita dan Peran Vital SPPI di Laut Lepas Taiwan
Editorial

Manipulasi Dokumen: Awal Petaka Pekerja Migran Indonesia
Editorial

Kawal Revisi UU PPMI Demi Keselamatan Pekerja Migran
Editorial

Darurat Mafia Paspor, Dirjen Imigrasi Harus Tegas
Editorial
Komentar Terbaru
Belum ada komentar.



