
Pengamat Prediksi Penyerapan Tenaga Kerja Belum Akan Optimal Tahun ini

VoiceIndonesia, Jakarta – Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, realisasi investasi sepanjang 2022 mencapai Rp 1.207,2 triliun. Realisasi investasi tersebut naik 34,0% dibandingkan dengan tahun lalu.
Dengan pencapaian investasi di sepanjang 2022, penyerapan tenaga kerja selama investasi setahun tersebut mencapai 1.305.001 orang tenaga kerja.
Hanya saja, Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira meramal, serapan tenaga kerja di tahun ini hanya mencapai 1,35 juta sampai 1,4 juta orang. Meski begitu, rasio penyerapan tenaga kerjanya diperkirakan masih belum optimal.
“Tapi dibanding dengan kenaikan nominal realisasi investasi baik Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang diperkirakan lebih baik, rasio serapan kerja masih tetap belum optimal,” ujar Bhima kepada Kontan.co.id, Rabu (25/1).
Bhima bilang, belum optimalnya penerapan tenaga lantaran realisasi investasi yang masuk lebih bersifat padat modal, terutama ke sektor berbasis komoditas, perusahaan rintisan (startup) dan jasa keuangan.
“Kalaupun ada pengolahan lebih ke ekstraktif misalnya industri smelter nikel. Berbeda dengan tren 10 tahun sebelumnya, masih ada minat investasi ke sektor manufaktur padat karya, seperti pakaian jadi dan alas kaki,” kata Bhima.
Selain itu, realisasi investasi yang tidak berkorelasi dengan serapan tenaga kerja dalam jumlah besar dapat mengancam lapangan pekerjaan baru. Pasalnya, setiap tahunnya terdapat sekitar 3,3 juta sampai 3,5 juta angkatan kerja baru di Indonesia
Padahal, kata Bhima, Indonesia sedang menuju puncak bonus demografi yang membutuhkan lapangan kerja dalam jumlah besar. Oleh karena itu, dikhawatirkan angka pengangguran khususnya pengangguran usia muda akan semakin meningkat.
“Saat ini pengangguran usia muda Indonesia relatif tertinggi di kawasan Asia Tenggara,” kata Bhima.
Untuk itu, Bhima memberi beberapa saran kepada pemerintah agar serapan tenaga kerja bisa optimal seiring meningkatnya realisasi investasi.
Pertama, meningkatkan promosi investasi yang lebih berkualitas dan padat karya dengan menggandeng perwakilan kedutaan dan atase perdagangan di luar negeri.
Kedua, kapasitas birokrasi daerah yang terkait perizinan harus didorong sehingga investasi manufaktur dan pertanian lebih tertarik.
Ketiga, formulasi insentif pajak yang lebih tepat sasaran sehingga setiap potensi pajak yang hilang bisa digantikan dengan serapan tenaga kerja yang lebih besar. Dan terakhir, mempercepat proses hilirisasi terutama di bidang pertanian, perikanan, dan kelautan.
Pilihan Redaksi
NasionalAnggaran Penanganan Korban di Komnas Perempuan Jadi Sorotan
⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.
Baca Juga
Komentar (0)
Login dulu untuk meninggalkan komentar.
Paling Banyak Dibaca

Bahlil: Blok Masela Serap 12 Ribu Tenaga Kerja, Prioritaskan Putra Daerah Maluku
Ketenagakerjaan

Dua Pelaut India Tewas di Selat Hormuz, New Delhi Larang Kapalnya Lewati Selat
Internasional

Produsen Kosmetik Ilegal di Kota Malang dan Kediri Digerebek
Daerah

Jersey Pramusim 2026 persembahan untuk legenda Persebaya Eri Irianto
Olahraga

Anggaran Penanganan Korban di Komnas Perempuan Jadi Sorotan
Nasional
Editorial

Darurat TPPO: Kedubes Arab Saudi Harus Ikut Bertanggungjawab
Editorial

Mengawal Hak Asasi Pelaut Kita dan Peran Vital SPPI di Laut Lepas Taiwan
Editorial

Manipulasi Dokumen: Awal Petaka Pekerja Migran Indonesia
Editorial

Kawal Revisi UU PPMI Demi Keselamatan Pekerja Migran
Editorial

Darurat Mafia Paspor, Dirjen Imigrasi Harus Tegas
Editorial
Komentar Terbaru
Belum ada komentar.



