News

Malaysia Tahan 6 Nelayan Asal Kepulauan Riau

Afifah - VOICEIndonesia.co06 Juni 2026 pukul 21.06 WIB
Nelayan di kepri ditahan aparat Malaysia
Foto: Nelayan di Kepri ditahan aparat Malaysia(Foto: dok./voiceindonesia.co/ist)
Iklan
Temukan lebih banyak
Panduan Kota & Daerah
Referensi Geografis
Peta

VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Anggota Komisi IV DPR RI Riyono mendesak pemerintah segera turun tangan melakukan langkah diplomasi taktis guna menyelamatkan enam nelayan tradisional asal Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Para nelayan kecil tersebut saat ini disekap di sel tahanan aparat maritim Malaysia setelah dituduh melanggar.

"Saya mendapatkan laporan dari teman-teman Kepulauan Riau, nelayan tradisional ada dua kapal, enam awak buah kapal yang ditangkap oleh polisi maritim Malaysia di wilayah Johor. Nah ini sedang kita advokasi untuk mereka bisa kita bebaskan," ujar Riyono di Jakarta, Sabtu (6/6/2026).

Iklan
Temukan lebih banyak
Peta
Referensi Geografis
Panduan Kota & Daerah

Berdasarkan data kedewanan, keenam WNI asal Desa Numbing, Kecamatan Bintan Pesisir tersebut terbagi dalam dua armada. 

Kapal pertama adalah KM Haiyang (GT 06) yang dinakhodai Minan bersama dua anak buah kapal (ABK), Nanang Fauzi dan Zainal. 

Sementara kapal kedua ialah KM Baruna Jaya (GT 05) di bawah komando nakhoda Nurfahri Fauzi dengan ABK bernama Heri dan Auzar.

Insiden pencegatan terjadi pada Minggu (31/5) saat kedua kapal motor tersebut tengah menebar jaring di perairan perbatasan. 

Keesokan harinya, Senin 1 Juni 2026, Polis Marin Malaysia resmi melakukan penahanan paksa dan menyeret kedua kapal beserta seluruh muatannya ke Markas Taktikal Polis Marin Mersing di wilayah Johor, Malaysia.

Riyono yang merupakan politisi senior Fraksi PKS ini membela bahwa pelanggaran batas kedaulatan tersebut murni akibat faktor teknis dan alamiah di laut, bukan sebuah tindakan spionase atau pencurian ikan yang disengaja. 

Keterbatasan alat navigasi modern berupa GPS pada kapal tradisional berukuran di bawah 10 GT kerap membuat nelayan miskin tidak sadar posisi mereka tergeser oleh hantaman cuaca buruk.

Iklan

"Karena memang nelayan kecil bisa jadi melanggar batas teritorial karena mereka terbawa arus. Tidak ada kesengajaan," lanjutnya.

Atas dasar itu, Komisi IV DPR RI mendesak Kementerian Luar Negeri melalui Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Johor Bahru bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mengirimkan tim pendampingan hukum darurat. 

Negara wajib menjamin hak-hak logistik para nelayan terpenuhi dengan baik selama masa penahanan serta menyambungkan jalur komunikasi ke pihak keluarga yang cemas di kampung halaman.

Menutup pernyataannya, Riyono menegaskan bahwa kasus ini harus menjadi momentum evaluasi pengetatan penjagaan di wilayah perbatasan oleh Badan Keamanan Laut (Bakamla). 

Ia optimistis lewat jalur negosiasi persaudaraan serumpun antar-otoritas maritim, pembebasan para pahlawan protein bangsa ini dapat diselesaikan tanpa perlu birokrasi persidangan yang berbelit-belit.

"Doakan, insya Allah satu-dua hari ini bisa kita bebaskan," tutup Riyono. (af)

Pilihan Redaksi

Pentingnya Memahami Aturan Ini Sebelum Kerja di Luar NegeriPekerja Migran Indonesia

Pentingnya Memahami Aturan Ini Sebelum Kerja di Luar Negeri

Sintia Nur Afifah·07 June 2026

Suka artikel ini? Beri apresiasi untuk sang penulis.

Berikan tanda suka secara gratis, atau kirim tips agar penulis tetap semangat.

Channel WhatsApp
Dapatkan Berita VOICE Indonesia Langsung di WhatsApp
Follow
#Tags:#News

⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.

Artikel Terkait

News

Komentar (0)

Login dulu untuk meninggalkan komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

UMKM Showcase

Dukung usaha lokal Indonesia — ribuan UMKM terdaftar

Partner Kolaborasi
PusatRilis.id

Featured UMKM

UMKM Lainnya

Gratis

Citizen Journalism

Berita dari Warga untuk Warga

Punya Berita Menarik di Sekitarmu?

Bagikan cerita, foto, atau video kejadian di lingkunganmu. Suaramu penting untuk masyarakat!

Kirim Berita Sekarang

Made with Emergent

-->-->
Original text
Rate this translation
Your feedback will be used to help improve Google Translate
-->