VOICE Indonesia
Daerah

Pelaut Miskin Jadi Tumbal Narkoba, Apinya Tajit Tuntut Keadilan

Redaksi - VOICEIndonesia.co
Pelaut Miskin Jadi Tumbal Narkoba, Apinya Tajit Tuntut Keadilan
Pelaut Miskin Jadi Tumbal Narkoba, Apinya Tajit Tuntut Keadilan
VOICEINDONESIA.CO,Batam - Dunia maritim internasional kembali diguncang oleh kisah pilu seorang pelaut  yang terjebak dalam pusaran kriminalitas kelas berat di perairan Indonesia. Berawal dari Sebuah pesan singkat yang diterima pada akhir tahun 2025 menjadi pembuka tabir gelap mengenai nasib seorang pekerja mesin yang kini mendekam di balik jeruji besi atas tuduhan kepemilikan dua ton narkoba. Mirisnya, pelaut tersebut hanyalah seorang ayah yang sedang berjuang mengumpulkan biaya persalinan istrinya saat nasib buruk itu menghantamnya tanpa ampun. Pelaut ini bukanlah seorang kapten atau pemegang otoritas yang memiliki kendali atas rute kapal maupun isi muatan yang dibawanya melintasi samudra. Ia hanyalah pekerja kasar yang menghabiskan waktunya untuk mengecat dan merawat mesin, namun kini harus menghadapi ancaman hukum yang sangat berat setelah kapalnya ditahan di Jakarta sebelum dipindahkan ke Pulau Batam. Tanpa dokumen kontrak yang jelas sejak awal keberangkatan, ia kini terisolasi dari dunia luar dan terpisah dari anak serta istrinya yang sedang hamil tua. Menanggapi situasi kemanusiaan yang mendesak ini, Stella Maris Thailand segera bergerak menjalin koordinasi dengan Stella Maris Batam untuk memberikan pendampingan pastoral. Organisasi berbasis iman ini menegaskan bahwa fokus utama mereka bukanlah pada perdebatan hukum, melainkan pada pemenuhan martabat dasar manusia yang seringkali terlupakan saat seseorang sudah dicap sebagai tersangka. Kehadiran mereka di Batam menjadi simbol bahwa masih ada secercah harapan bagi mereka yang merasa dibuang oleh sistem. Wakil direktur Stella Maris Thailand dan penerima penghargaan sebagai Trafficking in Persons (TIP) hero dari Amerika Serikat tahun 2022, Apinya Tajit, turun langsung untuk meninjau kondisi sang pelaut. Dalam sebuah wawancara mendalam pada Senin (2/2/2026) di batam, ia menegaskan bahwa kunjungannya memiliki misi suci untuk memastikan bahwa hak-hak dasar sebagai manusia tetap terpenuhi meski di dalam penjara. Ia melihat ada ketimpangan posisi tawar yang nyata dialami oleh para pelaut kelas bawah dalam rantai pelayaran global yang kompleks. “Saya datang ke Batam sebagai bagian dari misi pastoral kami untuk merawat para pelaut yang membutuhkan. Batam adalah wilayah maritim utama, dan juga tempat di mana pelaut dari berbagai negara mungkin mendapati diri mereka ditahan jauh dari rumah. Kehadiran kami di sini bukanlah advokasi politik atau hukum, melainkan tanggapan kemanusiaan dan pastoral untuk mendengarkan, menemani, dan menegaskan martabat para pelaut yang sedang menghadapi kesulitan,” katanya dengan penuh empati, pada Senin (2/2/2026) di batam. Apinya menjelaskan bahwa isolasi yang dialami pelaut di negara asing dapat merusak kondisi mental dan spiritual mereka secara permanen jika tidak mendapatkan dukungan yang tepat. Stella Maris berkomitmen untuk menjadi pendengar bagi mereka yang suaranya telah diredam oleh jeruji besi dan stigma negatif masyarakat. Bagi organisasi ini, setiap individu yang dipenjara tetaplah manusia yang layak untuk dikunjungi dan diberikan perhatian layaknya sesama saudara. “Stella Maris ada untuk peduli pada pelaut di mana pun mereka berada—di laut, di pelabuhan, dan juga dalam situasi penahanan. Ketika seorang pelaut dipenjara, terutama di negara asing, rasa isolasi, ketakutan, dan ketidakpastian menjadi sangat berat. Menjangkau mereka adalah bagian dari tugas pastoral kami: untuk mengunjungi, mendengarkan, memberikan dukungan emosional dan spiritual, serta mengingatkan mereka bahwa mereka tidak dilupakan. Kami tidak menghakimi bersalah atau tidaknya seseorang, dan kami tidak mencampuri proses hukum. Kami hanya berdiri di samping sesama manusia,” pungkas Apinya Tajit. Mengenai kondisi keluarga pelaut yang ditinggalkan, Apinya mengungkapkan bahwa mereka sedang berada dalam titik terendah kehidupan akibat ketidakpastian nasib sang kepala keluarga. Meski tidak berkomunikasi secara langsung untuk menjaga privasi, informasi yang diterima melalui perantara menunjukkan adanya luka batin yang sangat dalam. Keluarga tersebut kini hanya bisa menggantungkan harapan pada proses hukum yang adil di Indonesia agar kebenaran segera terungkap. “Kami tidak memiliki kontak langsung dengan pihak keluarga. Komunikasi dilakukan secara hati-hati melalui perantara tepercaya demi menghormati privasi dan menghindari kesalahpahaman. Dari apa yang kami pahami, keluarga tersebut mengalami kecemasan mendalam dan tekanan emosional. Mereka menghadapi perpisahan, ketidakpastian, dan rasa sakit karena tidak bisa bersama di saat-saat kritis dalam hidup mereka. Harapan mereka sederhana dan manusiawi: agar pelaut tersebut diperlakukan dengan adil, agar kebenaran diperiksa dengan cermat, dan agar ia dapat kembali ke keluarganya dengan martabat,” kata Apinya Tajit. Setelah melakukan kunjungan ke dalam lembaga pemasyarakatan, Apinya mengaku merasakan beban emosional yang sangat berat melihat realitas kehidupan di balik tembok penjara. Ia menyadari bahwa pelaut berpangkat rendah seringkali menjadi pihak yang paling rentan dikorbankan karena minimnya akses informasi dan perlindungan hukum. Pengalaman ini memperkuat keyakinannya bahwa pendampingan pastoral adalah elemen krusial dalam sistem keadilan yang seringkali dingin dan kaku. “Setelah kunjungan tersebut, saya merasakan beratnya beban sekaligus tanggung jawab. Berat karena tidak ada manusia yang boleh merasa benar-benar sendirian dalam keadaan seperti itu. Tanggung jawab karena pertemuan seperti ini mengingatkan kita mengapa kehadiran pastoral itu penting. Saya tidak memiliki wewenang atau informasi untuk menghakimi kasus ini, dan itu bukan peran saya. Namun, saya sangat percaya bahwa keadilan harus ditegakkan dengan ketelitian, profesionalisme, dan kemanusiaan. Pelaut, terutama mereka yang berada di posisi rendah, seringkali adalah pekerja dengan kekuasaan dan akses informasi yang terbatas. Realitas ini harus selalu dipertimbangkan,” ungkap Apinya Tajit. Stella Maris menegaskan bahwa mereka menghormati penuh kedaulatan hukum Indonesia dan tidak berniat mencampuri proses peradilan yang sedang berjalan. Namun, mereka mengingatkan bahwa seorang pekerja maritim tidak boleh secara otomatis dianggap sebagai kriminal hanya karena berada di kapal yang bermasalah. Diperlukan penyelidikan yang sangat mendalam untuk memisahkan antara pelaku utama dengan mereka yang hanya menjalankan perintah kerja kasar demi sesuap nasi. Tragedi ini menjadi pengingat bagi dunia pelayaran internasional tentang betapa rapuhnya perlindungan bagi para pelaut di rantai pasokan global. Banyak dari mereka yang hanya menjadi nomor dalam laporan berita tanpa pernah didengar latar belakang kehidupannya yang penuh perjuangan. Stella Maris berusaha mengembalikan sisi kemanusiaan tersebut dengan terus mendampingi para pelaut dan keluarga mereka melewati masa-masa yang sangat sulit ini. Apinya Tajit juga memberikan peringatan keras kepada komunitas maritim untuk lebih bertanggung jawab dalam proses rekrutmen dan transparansi kontrak kerja. Pelaut tidak boleh lagi dianggap sebagai komoditas yang bisa dibuang begitu saja ketika masalah hukum muncul. Perlindungan terhadap pekerja di laut harus menjadi prioritas utama agar kasus-kasus serupa tidak terus berulang dan menghancurkan masa depan keluarga kecil lainnya. Pesan penutup dari sang TIP Hero ditujukan kepada pemerintah agar tetap mengedepankan prinsip kemanusiaan dalam penegakan hukum yang tegas. Keadilan sejati tidak hanya diukur dari keberhasilan menangkap barang bukti, tetapi juga dari keberhasilan melindungi mereka yang tidak bersalah dari ketidakadilan sistemik. Integritas penyelidikan akan menjadi cermin bagi martabat bangsa dalam menangani kasus-kasus transnasional yang kompleks. Pada akhirnya, perjuangan Stella Maris adalah perjuangan untuk memastikan bahwa tidak ada manusia yang kehilangan harga dirinya, bahkan dalam situasi yang paling gelap sekalipun. Martabat manusia bersifat universal dan tidak bisa dibatasi oleh batas teritorial maupun status hukum seseorang. Fokus pelayanan mereka tetap teguh pada prinsip bahwa setiap orang berhak mendapatkan perlakuan yang manusiawi dan adil selama proses mencari kebenaran. Dunia diharapkan tidak menutup mata terhadap drama kemanusiaan yang sedang berlangsung di Batam ini, karena di balik angka tonase narkoba yang fantastis, ada seorang ayah yang merindukan kelahiran bayinya. Sebuah kasus hukum mungkin akan berakhir dengan vonis, namun luka sosial dan kemanusiaan yang ditimbulkannya memerlukan penyembuhan yang jauh lebih lama melalui kepedulian sesama manusia.(as/red)   Baca Berita Lainnya di Google News

Pilihan Redaksi

PHK Meningkat, Pemerintah Diminta Perluas Penempatan PMIPekerja Migran Indonesia

PHK Meningkat, Pemerintah Diminta Perluas Penempatan PMI

Afifah· 17 July 2026
#Batam#Direktur Stella Maris#narkoba#Pelaut.#Stella Maris Batam#Stella Maris Thailand#wna tailand
Lihat berita ini di Google News
Ikuti VOICE Indonesia di Google News untuk update terbaru
Channel WhatsApp
Dapatkan Berita VOICE Indonesia Langsung di WhatsApp
Follow

⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.

Baca Juga

Komentar (0)

Login dulu untuk meninggalkan komentar.