VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menyebut penghematan ini terjadi karena B50 secara signifikan menekan kebutuhan Indonesia terhadap impor solar, Rabu (17/6/2026).
"Di 2026 ini, dengan implementasi B50, diharapkan kita bisa menghemat devisa Rp157,28 triliun," kata Anggia dalam konferensi pers di Jakarta.
Selain hemat devisa, B50 juga diproyeksikan menciptakan nilai tambah CPO sebesar Rp24,68 triliun, menyerap 2,21 juta tenaga kerja, dan menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 46,72 juta ton. Manfaat ekonomi ini dinilai akan paling langsung dirasakan oleh petani sawit.
"Kenapa mendukung pertumbuhan ekonomi? Karena implementasi B50 ini juga akan meningkatkan nilai tambah untuk sawit kita. Sehingga, manfaat secara ekonominya akan lebih banyak dirasakan oleh petani sawit kita," jelasnya.
Meski demikian, tidak semua sektor sudah siap sepenuhnya. Uji teknis untuk otomotif sudah dimulai sejak 2 Desember 2025 dan ditargetkan rampung Juni 2026, sementara uji untuk alat pertanian, alat pertambangan, perkeretaapian, dan pembangkit listrik masih berjalan dan ditargetkan selesai pada semester II 2026.
"Walaupun di beberapa sektor tahap uji teknisnya masih berjalan, tapi kami memastikan bahwa implementasi ini akan dilakukan serentak," imbuh Anggia.



























