VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Ketegangan di kawasan Teluk berada di titik nadir setelah Iran mengancam akan melancarkan operasi serangan skala penuh jika Amerika Serikat (AS) tidak menghentikan agresinya.
Peringatan keras ini menyusul aksi pembalasan Iran terhadap Qatar, Kuwait, Bahrain, Yordania, dan Arab Saudi, setelah wilayahnya digempur jet tempur AS selama tujuh malam berturut-turut.
Pejabat tinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sekaligus penasihat militer senior Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, menegaskan bahwa Teheran kini siap memasuki fase eskalasi yang jauh lebih besar dan tidak lagi terikat pada asas proporsionalitas.
"Jika serangan-serangan AS berlanjut selama dua atau tiga hari lagi kami akan memasuki fase operasi serangan skala penuh," tegas Rezaei dalam wawancara yang dikutip IRIB, Sabtu (18/7/2026).
Rezaei memperingatkan seluruh kawasan akan merasakan dampaknya tanpa terkecuali jika konflik terus meningkat.
"Tidak akan ada batas politik yang aman dari kekuatan serangan Iran," ujarnya.
Selain ancaman militer, Rezaei juga menuntut Washington membayar ganti rugi finansial atas kerusakan infrastruktur sipil di Teheran akibat serangan tersebut—tuduhan yang langsung dibantah oleh pihak AS.
Saling ancam ini memuncak setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan nota kesepahaman perdamaian AS-Iran yang dimediasi Pakistan telah berakhir, sekaligus mengizinkan gelombang serangan baru. Pernyataan Rezaei ini menandai babak baru konflik yang kian mengancam stabilitas total di Timur Tengah. (sin/as)













