VOICEINDONESIA.CO, Istanbul – Iran menegaskan Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga Amerika Serikat menerima syarat-syarat Teheran termasuk pengakuan bahwa kendali atas selat tersebut harus berada di bawah otoritas Iran. Pernyataan ini disampaikan di tengah gelombang baru serangan AS terhadap fasilitas militer Iran.
Juru Bicara Angkatan Darat Iran Mohammad Akrami-Nia menegaskan Washington harus mematuhi ketentuan kesepakatan kerangka perdamaian bulan lalu dan menghentikan tindakan bermusuhan sebelum Selat Hormuz dapat dibuka kembali.
"Aksi militer AS yang terus berlanjut tidak akan memaksa Iran untuk membuka kembali jalur perairan tersebut," kata Akrami-Nia, dikutip Mehr News Agency, Kamis (16/7/2026).
Pernyataan tersebut muncul setelah Komando Pusat Militer AS CENTCOM mengumumkan serangan tambahan terhadap Iran yang menargetkan kemampuan militer terkait ancaman terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz. Gelombang baru ledakan juga dilaporkan terjadi di beberapa kota di Iran seiring serangan AS tersebut.
Iran kemudian membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di berbagai wilayah meski kesepakatan kerangka yang dimediasi Pakistan untuk mencapai penyelesaian berkelanjutan masih berlaku. Ketegangan antara kedua pihak terus meningkat meski nota kesepahaman perdamaian telah ditandatangani.
Selat Hormuz merupakan jalur transit sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan penutupannya telah mengguncang pasar energi global serta mengancam kelancaran distribusi minyak mentah ke berbagai negara termasuk Indonesia.



























