Ketenagakerjaan

Banyak Industri Padat Karya Hengkang, Pemerintah Diminta Evaluasi

Sintia Nur Afifah - VOICEIndonesia.co09 Juni 2026 pukul 14.26 WIB
Presiden Sarbumusi Irham Ali Saifuddin
Presiden Sarbumusi Irham Ali Saifuddin(Foto: Voiceindonesia.co/Ist)
Iklan

VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) menyoroti industri padat karya di sektor tekstil, garmen, sandang, dan kulit sebagian besar tidak hanya tutup tetapi pindah ke negara lain seperti Kamboja dan Vietnam.

Indonesia dinilai harus melakukan evaluasi atas hengkangnya investasi padat karya yang selama ini menjadi alat paling efektif menyerap tenaga kerja formal.

Iklan

Presiden Sarbumusi, Irham Ali Saifuddin mengingatkan pemerintah untuk lebih melihat aspek ekonomi di bawah kepemimpinan Prabowo.

"Beberapa tahun terakhir terjadi gelombang deindustrialisasi, banyak perusahaan terutama sektor padat karya yang berguguran, sementara investasi baru untuk sektor manufaktur sedang seret," kata Irham saat dihubungi VOICEINDONESIA.CO, Selasa (9/6/2026).

Sektor manufaktur dan padat karya selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan kelas menengah Indonesia dalam 10 hingga 20 tahun terakhir.

"Industri padat karya di sektor tekstil, garmen, sandang, dan kulit sebagian besar gugur, bukan hanya tutup tapi juga pindah ke negara lain seperti Kamboja dan Vietnam," ujarnya.

Ia menegaskan Indonesia harus segera mengevaluasi diri atas kondisi ini.

"Sebagai sebuah negara kita harus bermuhasabah, apa yang salah yang terjadi di republik ini sehingga investasi padat karya bukannya nambah tapi malah berguguran," katanya.

Sarbumusi mendorong pemerintah fokus mendatangkan investasi berkualitas yang dikonversi menjadi lapangan kerja formal sebanyak dan seberkualitas mungkin.

Iklan

"Pemerintah sebaiknya fokus dan melakukan semua cara untuk mendatangkan investasi yang sebesar-besarnya ke Indonesia di mana investasi ini akan dikonversi dalam bentuk penciptaan lapangan kerja sebanyak dan seberkualitas mungkin," ujarnya.

Fenomena deindustrialisasi ini dinilai semakin mendorong tren informalisasi yang berbahaya bagi kualitas ketenagakerjaan nasional.

"Ketika kita semakin terjebak di informality maka kita akan menjauhi situasi kerja layak atau decent jobs," tegasnya.

Pilihan Redaksi

133 PMI di Korea Selatan Mundur Meski Kontrak Kerja Belum BerakhirPekerja Migran Indonesia

133 PMI di Korea Selatan Mundur Meski Kontrak Kerja Belum Berakhir

Sintia Nur Afifah·09 June 2026

Suka artikel ini? Beri apresiasi untuk sang penulis.

Berikan tanda suka secara gratis, atau kirim tips agar penulis tetap semangat.

Channel WhatsApp
Dapatkan Berita VOICE Indonesia Langsung di WhatsApp
Follow

⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.

Artikel Terkait

Ketenagakerjaan

Komentar (0)

Login dulu untuk meninggalkan komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Made with Emergent

-->-->
Original text
Rate this translation
Your feedback will be used to help improve Google Translate
-->