VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Anggota Komisi IX DPR RI Achmad Ru'yat menyoroti meninggalnya tiga dokter peserta program internsip dalam waktu yang berdekatan sebagai sinyal serius bahwa beban kerja tenaga kesehatan sudah melampaui batas dan perlu segera mendapat perhatian pemerintah. Kejadian ini muncul di tengah defisit dokter nasional yang masih mencapai sekitar 120 ribu dari kebutuhan 544 ribu dokter.
Achmad menegaskan peristiwa tersebut tidak boleh diabaikan karena mencerminkan kondisi sistemik yang lebih dalam dalam tata kelola tenaga kesehatan Indonesia.
"Meninggalnya tiga dokter internsip dalam waktu yang relatif singkat menunjukkan beratnya beban kerja yang mereka hadapi, karena itu perlu ada penyesuaian dan peningkatan kesejahteraan bagi tenaga kesehatan," kata Achmad dilansir Sabtu (25/7/2026).
Achmad juga menyoroti beban administratif yang masih membebani tenaga medis di puskesmas sehingga mengurangi waktu pelayanan kepada pasien. Ia mendesak KemenPAN-RB menyusun strategi agar tenaga medis bisa lebih fokus melayani masyarakat.
"Kami masih menemukan tenaga kesehatan di puskesmas dibebani pekerjaan administratif yang cukup besar, KemenPAN-RB perlu memiliki strategi agar tenaga medis dapat lebih fokus memberikan pelayanan kepada masyarakat daripada disibukkan dengan penyusunan laporan," ujarnya.
Achmad juga mendorong pemerintah memberikan nilai tambah dalam jenjang karier bagi dokter yang bertugas di wilayah perbatasan, kepulauan, dan daerah terpencil agar distribusi tenaga medis lebih merata.
"Dokter-dokter yang bekerja di wilayah perbatasan, kepulauan, dan daerah terpencil perlu mendapatkan nilai tambah dalam jenjang karier mereka, jangan sampai para dokter hanya menumpuk dan lebih memilih bekerja di perkotaan," tegasnya.


















