
236 Ribu Lowongan di Luar Negeri Belum Terserap Tenaga Kerja Indonesia

VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Langkah besar yang ditandai dengan Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) di Kantor KP2MI Jakarta ini ditujukan untuk mengoptimalkan penyerapan ratusan ribu peluang kerja global sekaligus membentengi masyarakat dari jerat Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Sinergi lintas instansi ini berjalan linier dengan program unggulan quick win "SMK Go Global" yang digodok bersama Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat.
Program tersebut membidik target ambisius penempatan sebanyak 500.000 tenaga kerja terampil hingga tahun 2029 pada sektor-sektor produktif seperti caregiver, welder, hospitality, nurse, dan truck driver.
Menteri P2MI, Mukhtarudin, memaparkan bahwa peluang pasar kerja internasional bagi talenta domestik sebenarnya masih sangat terbuka lebar, namun belum terserap secara optimal.
Berdasarkan basis data SIP2MI per 13 Juni 2026, terdapat lowongan kerja luar negeri sebanyak 313.803 posisi, tetapi kuota yang baru berhasil diisi oleh tenaga kerja Indonesia baru mencapai 76.907 lowongan saja atau setara 24,51 persen.
"Ini artinya, masih ada 236.896 peluang kerja (75,49%) yang terbuka lebar dan menanti untuk diisi oleh tenaga kerja Indonesia yang kompeten," ujar Menteri Mukhtarudin di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Di sisi lain, Mukhtarudin secara khusus menyoroti kedudukan geografis Provinsi Banten yang sangat strategis namun rawan. Di satu sisi, Banten menyumbang angka penempatan tinggi yang memicu dampak pergerakan ekonomi (remitansi) masif bagi kas daerah.
Namun di sisi lain, kepungan akses pelabuhan dan bandara di Banten menjadikannya sasaran empuk sindikat penempatan non-prosedural.
"Jika setiap pekerja migran konsisten mengirimkan rata-rata Rp5 phantom juta per bulan, aliran dana tersebut menciptakan multiplier effect yang luar biasa, menggerakkan urat nadi ekonomi lokal, memutar roda UMKM di desa-desa, dan meningkatkan daya beli masyarakat," beber Mukhtarudin.
Kerawanan wilayah Banten terbukti dari performa BP3MI Banten yang menempati peringkat pertama nasional dalam intensitas penggagalan keberangkatan ilegal.
Sepanjang Januari hingga Mei 2026, instansi tersebut telah mengeksekusi 297 tindakan pencegahan dan menyelamatkan 572 Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI).
"Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan nyawa dan masa depan keluarga Indonesia yang berhasil kita lindungi," tegas Mukhtarudin.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur Provinsi Banten, Andra Soni, menyambut gembira kolaborasi ini dan menyatakan komitmen penuh jajarannya untuk menyukseskan visi besar Kepala Negara. Dari target nasional, Pemprov Banten membidik kesiapan ratusan ribu tenaga kerja lokal yang terlatih untuk dikirim ke negara mitra secara legal dalam empat tahun ke depan.
"Kami berharap besar, sesuai arahan Bapak Presiden, dalam empat tahun ke depan dapat tercapai target 200 ribu Pekerja Migran Indonesia yang terlatih dan terdidik untuk ditempatkan di negara-negara sahabat," ujar Andra Soni.
Sebagai sosok yang pernah merasakan langsung kerasnya hidup sebagai buruh migran, Andra menilai jaminan pelindungan hukum dari hulu ke hilir merupakan hal mutlak agar warga Banten tidak lagi merasa waswas akan keselamatan diri mereka saat mengadu nasib di luar negeri.
"Semoga kita bisa menseriusi dengan baik arahan Bapak Presiden. Ini merupakan upaya bersama untuk menyejahterakan masyarakat dan memberikan kesempatan bagi warga kita untuk berkarya di luar negeri, namun tentu dengan jaminan pelindungan penuh dari pemerintah," tegas Andra.
Gubernur Banten pun menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada kementerian terkait dan berjanji akan langsung menginstruksikan jajarannya untuk bergerak cepat mengimplementasikan seluruh poin kesepakatan secara taktis di lapangan.
"Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada Pak Menteri atas kerja sama ini. Kami sangat antusias dan siap menjalankan seluruh program yang telah disepakati demi menghadirkan tata kelola migrasi yang aman dan bermartabat," pungkas Andra Soni.
Kerja sama makro ini nantinya akan bermuara pada konsep Brain Circulation, di mana pekerja migran didorong menyerap ilmu dan teknologi mutakhir di tingkat global, untuk kemudian dibawa pulang ke tanah air demi membangun usaha produktif.
Menteri P2MI pun mengingatkan semua pihak agar komitmen tertulis ini tidak mandek sekadar menjadi formalitas seremonial di atas meja kerja.
"Ke depan, langkah nyata di lapangan adalah pembuktiannya. Mari bersama-sama kita hadirkan tata kelola dan pelindungan yang bermartabat bagi para pejuang ekonomi keluarga," tutup Mukhtarudin. (af)
Pilihan Redaksi
NasionalAnggaran Penanganan Korban di Komnas Perempuan Jadi Sorotan
⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.
Baca Juga
Komentar (0)
Login dulu untuk meninggalkan komentar.
Paling Banyak Dibaca

Bahlil: Blok Masela Serap 12 Ribu Tenaga Kerja, Prioritaskan Putra Daerah Maluku
Ketenagakerjaan

Dua Pelaut India Tewas di Selat Hormuz, New Delhi Larang Kapalnya Lewati Selat
Internasional

Produsen Kosmetik Ilegal di Kota Malang dan Kediri Digerebek
Daerah

Jersey Pramusim 2026 persembahan untuk legenda Persebaya Eri Irianto
Olahraga

Anggaran Penanganan Korban di Komnas Perempuan Jadi Sorotan
Nasional
Editorial

Darurat TPPO: Kedubes Arab Saudi Harus Ikut Bertanggungjawab
Editorial

Mengawal Hak Asasi Pelaut Kita dan Peran Vital SPPI di Laut Lepas Taiwan
Editorial

Manipulasi Dokumen: Awal Petaka Pekerja Migran Indonesia
Editorial

Kawal Revisi UU PPMI Demi Keselamatan Pekerja Migran
Editorial

Darurat Mafia Paspor, Dirjen Imigrasi Harus Tegas
Editorial
Komentar Terbaru
Belum ada komentar.

