
Pulang dari Suriah, Kepala BP2MI Jemput 22 PMI Repatriasi Korban TPPO
TANGERANG,AKUUPDATE.ID - Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) menjemput pemulangan sebanyak 22 Pekerja Migran Indonesia (PMI) repatriasi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dari Damascus, Suriah.
Kepala BP2MI Benny Rhamdani mengatakan, selamat datang di Indonesia, Pemerintah ingin memastikan semua sehat sesuai protokol kesehatan, sehingga semuanya bisa bertemu dengan keluarga di rumah. Dari 22 PMI yang pulang berasal dari Banten, Jakarta, Jabar, Jatim, Lampung, NTB, Sumsel.
"Ibu-ibu tidak hanya sehat juga selamat. Sesuai protokol kesehatan semua harus menjalani karantina selama 5 hari di Wisma Atlet. Pemerintah Indonesia terus menangani warga secara baik dengan memberikan perlakuan sama baik yang resmi maupun tidak resmi," ujarnya saat menjemput PMI di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang Banten, Jumat (28/5)
Baca Juga : BPJAMSOSTEK Bekerja sama dengan Bank Mandiri Beri kemudahan PMI di Malaysia bayar iuran
Kepada para PMI, Benny menegaskan, akan menyeret adalah pelaku yang telah memberangkatkan para PMI secara non prosedural sehingga menjadi korban TPPO.
Ia menambahkan, PMI ini terindikasi korban TPPO yang diberangkatkan ke Suriah, karena seluruh wilayah Suriah tidak boleh ada penempatan PMI, termasuk PLRT (Penata Laksana Rumah Tangga) karena daerah konflik.
"Para PMI mengaku dieksploitasi saat bekerja. Mereka rata-rata bekerja selama dua tahun. Kita berharap kepada Polri untuk serius menangani ini. Perang total kepada sindikat akan terus dilakukan dan akan saya pimpin sendiri. Yang penting komitmen dan tegak lurus harus terus dilakukan dan butuh komitmen semua pihak.
Benny mengatakan, Suriah adalah salah satu negara yang dilarang untuk penempatan Calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) berdasarkan Surat Keputusan Kementerian Tenaga no. KEP. 157/PPTK/VIII/2011 tertanggal 9 Agustus 2011 mengenai penghentian pelayanan penempatan Tenaga Kerja Indonesia ke Negara Suriah untuk bekerja pada sektor Penata Laksana Rumah tngga (PLRT) terhitung tanggal 5 September 2011.
Baca Juga : UPT BP2MI Yogyakarta Sosialisasikan Pencegahan Penempatan Nonprosedural PMI
Ditambah lagi, lanjut Benny, sesuai Keputusan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 260 Tahun 2015 tanggal 26 Mei 2015 Tentang Penghentian dan pelarangan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia pada Pengguna Perseorangan di Negara-Negara kawasan Timur Tengah, termasuk Suriah.
Menurut Benny, sesuai UU No. 18/2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Pasal 86, tindakan tersebut dapat diancam pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak 15 Miliar rupiah bagi orang yang menempatkan Calon PMI ke negara tertentu yang dinyatakan tertutup. (*)
Pilihan Redaksi
NasionalAnggaran Penanganan Korban di Komnas Perempuan Jadi Sorotan
⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.
Baca Juga
Komentar (0)
Login dulu untuk meninggalkan komentar.
Paling Banyak Dibaca

Bahlil: Blok Masela Serap 12 Ribu Tenaga Kerja, Prioritaskan Putra Daerah Maluku
Ketenagakerjaan

Dua Pelaut India Tewas di Selat Hormuz, New Delhi Larang Kapalnya Lewati Selat
Internasional

Produsen Kosmetik Ilegal di Kota Malang dan Kediri Digerebek
Daerah

Jersey Pramusim 2026 persembahan untuk legenda Persebaya Eri Irianto
Olahraga

Anggaran Penanganan Korban di Komnas Perempuan Jadi Sorotan
Nasional
Editorial

Darurat TPPO: Kedubes Arab Saudi Harus Ikut Bertanggungjawab
Editorial

Mengawal Hak Asasi Pelaut Kita dan Peran Vital SPPI di Laut Lepas Taiwan
Editorial

Manipulasi Dokumen: Awal Petaka Pekerja Migran Indonesia
Editorial

Kawal Revisi UU PPMI Demi Keselamatan Pekerja Migran
Editorial

Darurat Mafia Paspor, Dirjen Imigrasi Harus Tegas
Editorial
Komentar Terbaru
Belum ada komentar.

