VOICE Indonesia
Olahraga

Amerika Jadi Host Terburuk Dalam Sejarah Piala Dunia, FIFA Hanya Bisa Menonton

Redaksi - VOICEIndonesia.co
omar-artan-1780937000884_169.jpeg
Wasit Piala Dunia 2026 asal Somalia Omar Artan dilarang masuk USA(Foto: Dok. Istimewa)

VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026, perhatian dunia justru tertuju pada kekacauan visa di Amerika Serikat. Penolakan masuk terhadap wasit, kendala visa bagi ofisial tim, hingga keluhan suporter dan jurnalis internasional memunculkan pertanyaan besar mengenai kesiapan AS sebagai tuan rumah utama pesta sepak bola terbesar di dunia.

Kasus yang paling menyita perhatian terjadi ketika wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, ditolak masuk ke Amerika Serikat meski telah mengantongi visa dan mendapat penugasan resmi dari FIFA. Akibat keputusan otoritas perbatasan AS tersebut, Artan gagal menjalankan tugasnya pada turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Insiden itu memperlihatkan keterbatasan FIFA dalam menghadapi kebijakan imigrasi negara tuan rumah. Federasi sepak bola dunia tersebut hanya dapat menyampaikan penyesalan tanpa mampu mengubah keputusan otoritas Amerika Serikat.

"Kami sangat menyesalkan situasi yang dialami ofisial pertandingan tersebut. Namun, FIFA tidak memiliki kewenangan atas keputusan masuk atau keluar yang diambil oleh otoritas nasional," kata FIFA dalam pernyataannya.

Masalah visa juga dilaporkan menimpa tim nasional Iran. Sejumlah staf dan ofisial disebut mengalami hambatan memperoleh visa Amerika Serikat. Federasi Sepak Bola Iran bahkan mengeluhkan pencabutan alokasi tiket bagi pendukung mereka beberapa hari sebelum turnamen berlangsung.

Ketua Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, menegaskan bahwa seluruh peserta yang telah lolos ke putaran final semestinya memperoleh perlakuan yang sama.

"Kami berharap sepak bola tetap menjadi jembatan persahabatan antarbangsa. Semua tim yang lolos seharusnya memperoleh perlakuan yang setara dalam menjalani persiapan menuju Piala Dunia," ujarnya.

Tak hanya peserta, kelompok jurnalis internasional juga mengeluhkan proses visa yang lambat dan berbelit. Sejumlah organisasi media memperingatkan bahwa keterlambatan penerbitan visa berpotensi mengganggu peliputan salah satu ajang olahraga terbesar di dunia.

Direktur Eksekutif Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ), Jodie Ginsberg, mengatakan akses bagi jurnalis internasional harus menjadi prioritas tuan rumah.

"Jurnalis harus dapat melakukan perjalanan dan melaporkan peristiwa penting dunia tanpa menghadapi hambatan yang tidak perlu. Keterlambatan visa berisiko mengganggu akses publik terhadap informasi," kata dia.

Kekhawatiran serupa datang dari kelompok hak asasi manusia. Mereka menilai kebijakan pembatasan perjalanan dan pengetatan imigrasi yang diterapkan Amerika Serikat berpotensi mengurangi partisipasi suporter dari sejumlah negara.

Di tengah berbagai keluhan tersebut, FIFA dan pemerintah Amerika Serikat telah memperkenalkan mekanisme percepatan pengajuan visa bagi pemegang tiket melalui FIFA Priority Appointment Scheduling System (PASS). Namun program tersebut tidak memberikan jaminan visa akan disetujui karena seluruh pemohon tetap harus melewati proses pemeriksaan keamanan dan imigrasi yang berlaku.

Pilihan Redaksi

Anggaran Penanganan Korban di Komnas Perempuan Jadi SorotanNasional

Anggaran Penanganan Korban di Komnas Perempuan Jadi Sorotan

Afifah· 16 July 2026
Lihat berita ini di Google News
Ikuti VOICE Indonesia di Google News untuk update terbaru
Channel WhatsApp
Dapatkan Berita VOICE Indonesia Langsung di WhatsApp
Follow

⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.

Baca Juga

Komentar (0)

Login dulu untuk meninggalkan komentar.