
Amerika Jadi Host Terburuk Dalam Sejarah Piala Dunia, FIFA Hanya Bisa Menonton

VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026, perhatian dunia justru tertuju pada kekacauan visa di Amerika Serikat. Penolakan masuk terhadap wasit, kendala visa bagi ofisial tim, hingga keluhan suporter dan jurnalis internasional memunculkan pertanyaan besar mengenai kesiapan AS sebagai tuan rumah utama pesta sepak bola terbesar di dunia.
Kasus yang paling menyita perhatian terjadi ketika wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, ditolak masuk ke Amerika Serikat meski telah mengantongi visa dan mendapat penugasan resmi dari FIFA. Akibat keputusan otoritas perbatasan AS tersebut, Artan gagal menjalankan tugasnya pada turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Insiden itu memperlihatkan keterbatasan FIFA dalam menghadapi kebijakan imigrasi negara tuan rumah. Federasi sepak bola dunia tersebut hanya dapat menyampaikan penyesalan tanpa mampu mengubah keputusan otoritas Amerika Serikat.
"Kami sangat menyesalkan situasi yang dialami ofisial pertandingan tersebut. Namun, FIFA tidak memiliki kewenangan atas keputusan masuk atau keluar yang diambil oleh otoritas nasional," kata FIFA dalam pernyataannya.
Masalah visa juga dilaporkan menimpa tim nasional Iran. Sejumlah staf dan ofisial disebut mengalami hambatan memperoleh visa Amerika Serikat. Federasi Sepak Bola Iran bahkan mengeluhkan pencabutan alokasi tiket bagi pendukung mereka beberapa hari sebelum turnamen berlangsung.
Ketua Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, menegaskan bahwa seluruh peserta yang telah lolos ke putaran final semestinya memperoleh perlakuan yang sama.
"Kami berharap sepak bola tetap menjadi jembatan persahabatan antarbangsa. Semua tim yang lolos seharusnya memperoleh perlakuan yang setara dalam menjalani persiapan menuju Piala Dunia," ujarnya.
Tak hanya peserta, kelompok jurnalis internasional juga mengeluhkan proses visa yang lambat dan berbelit. Sejumlah organisasi media memperingatkan bahwa keterlambatan penerbitan visa berpotensi mengganggu peliputan salah satu ajang olahraga terbesar di dunia.
Direktur Eksekutif Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ), Jodie Ginsberg, mengatakan akses bagi jurnalis internasional harus menjadi prioritas tuan rumah.
"Jurnalis harus dapat melakukan perjalanan dan melaporkan peristiwa penting dunia tanpa menghadapi hambatan yang tidak perlu. Keterlambatan visa berisiko mengganggu akses publik terhadap informasi," kata dia.
Kekhawatiran serupa datang dari kelompok hak asasi manusia. Mereka menilai kebijakan pembatasan perjalanan dan pengetatan imigrasi yang diterapkan Amerika Serikat berpotensi mengurangi partisipasi suporter dari sejumlah negara.
Di tengah berbagai keluhan tersebut, FIFA dan pemerintah Amerika Serikat telah memperkenalkan mekanisme percepatan pengajuan visa bagi pemegang tiket melalui FIFA Priority Appointment Scheduling System (PASS). Namun program tersebut tidak memberikan jaminan visa akan disetujui karena seluruh pemohon tetap harus melewati proses pemeriksaan keamanan dan imigrasi yang berlaku.
Pilihan Redaksi
NasionalAnggaran Penanganan Korban di Komnas Perempuan Jadi Sorotan
⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.
Baca Juga
Komentar (0)
Login dulu untuk meninggalkan komentar.
Paling Banyak Dibaca

Bahlil: Blok Masela Serap 12 Ribu Tenaga Kerja, Prioritaskan Putra Daerah Maluku
Ketenagakerjaan

Dua Pelaut India Tewas di Selat Hormuz, New Delhi Larang Kapalnya Lewati Selat
Internasional

Produsen Kosmetik Ilegal di Kota Malang dan Kediri Digerebek
Daerah

Jersey Pramusim 2026 persembahan untuk legenda Persebaya Eri Irianto
Olahraga

Anggaran Penanganan Korban di Komnas Perempuan Jadi Sorotan
Nasional
Editorial

Darurat TPPO: Kedubes Arab Saudi Harus Ikut Bertanggungjawab
Editorial

Mengawal Hak Asasi Pelaut Kita dan Peran Vital SPPI di Laut Lepas Taiwan
Editorial

Manipulasi Dokumen: Awal Petaka Pekerja Migran Indonesia
Editorial

Kawal Revisi UU PPMI Demi Keselamatan Pekerja Migran
Editorial

Darurat Mafia Paspor, Dirjen Imigrasi Harus Tegas
Editorial
Komentar Terbaru
Belum ada komentar.



