
Mengapa Iran Jadi Tim Paling Tertindas di Piala Dunia 2026?

VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Tim nasional Iran menjadi salah satu peserta yang menghadapi tantangan paling berat pada Piala Dunia 2026. Selain harus bersaing di lapangan, skuad berjuluk Team Melli juga dibayangi persoalan visa, keterbatasan pergerakan lintas negara, serta absennya sejumlah staf dan ofisial yang gagal memperoleh izin masuk ke Amerika Serikat.
Situasi tersebut mencuat setelah Iran bermain imbang 2-2 melawan Selandia Baru pada laga perdana Grup G di Stadion SoFi, Los Angeles, 15 Juni 2026. Seusai pertandingan, skuad Iran tidak diizinkan bermalam di Los Angeles untuk pemulihan dan latihan seperti yang direncanakan sebelumnya. Mereka harus segera kembali ke markas tim di Tijuana, Meksiko, sebelum kembali lagi ke Amerika Serikat untuk pertandingan berikutnya.
Kapten Iran, Mehdi Taremi, dalam wawancara pascapertandingan melawan Selandia Baru pada 15 Juni 2026, meluapkan kekecewaannya atas situasi yang dihadapi tim.
"Everything is a disaster," kata Taremi ketika menggambarkan kondisi yang harus dijalani Iran selama turnamen. Ia menilai perlakuan yang diterima timnya tidak adil dan mengganggu persiapan pemain menghadapi pertandingan.
Taremi juga mengungkapkan bahwa berbagai hambatan administratif dan politik telah mengurangi makna Piala Dunia sebagai ajang yang menyatukan bangsa-bangsa. Dalam konferensi pers menjelang laga melawan Selandia Baru pada 14 Juni 2026 di Los Angeles, ia mengatakan ketegangan yang terjadi telah "mengurangi kegembiraan" dan bertentangan dengan pesan perdamaian yang selama ini diusung FIFA.
Masalah visa menjadi salah satu kendala terbesar yang dihadapi Iran. Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) mengungkapkan sekitar 15 anggota delegasi, termasuk sejumlah staf dan ofisial pendukung tim, tidak memperoleh visa Amerika Serikat sehingga tidak dapat mendampingi tim selama turnamen berlangsung. FIFA kemudian berupaya membantu proses penerbitan visa tambahan bagi beberapa anggota delegasi tersebut.
Kekacauan administrasi juga menimpa pemain sayap Iran, Mehdi Torabi. Torabi sempat hanya mendapatkan visa sekali masuk (single-entry visa), berbeda dengan sebagian besar pemain Iran yang memperoleh visa multi-entry. Setelah Iran meninggalkan Amerika Serikat usai laga melawan Selandia Baru, visa Torabi dinyatakan kedaluwarsa sehingga statusnya untuk pertandingan berikutnya sempat menjadi tanda tanya. Federasi Iran kemudian meminta bantuan FIFA dan otoritas terkait untuk menerbitkan visa baru agar pemain berusia 31 tahun itu tetap dapat memperkuat Iran pada laga berikutnya. Belakangan, Torabi dilaporkan berhasil memperoleh visa multi-entry.
Pelatih Iran, Amir Ghalenoei, bahkan menyebut timnya sebagai "tim yang paling tertindas di Piala Dunia" karena harus menghadapi persoalan di luar sepak bola yang tidak dialami sebagian besar peserta lain. Menurutnya, gangguan perjalanan, ketidakpastian visa, dan keterbatasan personel pendukung berdampak langsung terhadap performa tim di lapangan.
Meski dihantam berbagai kendala, Iran tetap mampu mengamankan satu poin dari laga pembuka setelah bermain imbang 2-2 melawan Selandia Baru. Namun perjalanan Team Melli di Piala Dunia 2026 diperkirakan masih akan berat, mengingat mereka harus terus menjalani mobilitas lintas negara sambil menghadapi persoalan administratif yang belum sepenuhnya selesa
Pilihan Redaksi
ImigrasiBantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani
⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.
Baca Juga



Amerika Jadi Host Terburuk Dalam Sejarah Piala Dunia, FIFA Hanya Bisa Menonton
9 Juni 2026 pukul 16.55

Komentar (0)
Login dulu untuk meninggalkan komentar.
Paling Banyak Dibaca

BNN Jatim Gagalkan Penyelundupan 5,4 Kilogram Sabu dari Malaysia
Daerah

Selat Hormuz Tetap Ditutup Sebelum AS Terima Syarat dari Iran
Internasional

Bansos Bakal Disalurkan Lewat Kopdes
Ekonomi

RI Usul Keterampilan Masa Depan Jadi Salah Satu Fokus Kerja Sama BRICS
Ketenagakerjaan

Bantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani
Imigrasi
Editorial

Darurat TPPO: Kedubes Arab Saudi Harus Ikut Bertanggungjawab
Editorial

Mengawal Hak Asasi Pelaut Kita dan Peran Vital SPPI di Laut Lepas Taiwan
Editorial

Manipulasi Dokumen: Awal Petaka Pekerja Migran Indonesia
Editorial

Kawal Revisi UU PPMI Demi Keselamatan Pekerja Migran
Editorial

Darurat Mafia Paspor, Dirjen Imigrasi Harus Tegas
Editorial
Komentar Terbaru
Belum ada komentar.
