VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Iran menegaskan tidak akan membiarkan Selat Hormuz kembali ke statusnya sebelum perang dan memperingatkan kapal perang Eropa mana pun yang berusaha mendekati jalur perairan strategis tersebut akan dianggap sebagai sasaran yang sah. Teheran bahkan menyatakan siap menghadapi berlanjutnya perang demi mempertahankan kendali atas selat tersebut.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Bidang Hukum dan Urusan Internasional Kazem Gharibabadi mengatakan kepada stasiun televisi milik negara Iran IRIB TV, bahwa jika situasi di selat tersebut kembali seperti sebelum perang, kesuksesan Iran dalam perang tidak akan lengkap.
"Pihak Amerika meminta kami untuk mengadakan pembicaraan, dan mengirimkan pesan melalui Oman bahwa mereka tidak akan melakukan tindakan militer terhadap kami," ujarnya, Selasa (28/7/2026).
Gharibabadi mengungkapkan bahwa Oman berusaha melibatkan negara ketiga untuk operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz bagian selatan, namun Iran menolaknya. Oman juga telah mengusulkan rute bersama dengan pembagian kendali 50-50, namun Iran menyatakan usulan tersebut tidak dapat menghilangkan kekhawatirannya karena akan merusak kedaulatan Iran atas selat tersebut.
Sebagai gantinya, Teheran mengusulkan agar Iran memegang kendali penuh atas rute masuk Selat Hormuz dan kendali parsial atas rute keluarnya. Jika Oman menerima tawaran tersebut, kedua pihak akan melangkah ke tahap berikutnya, namun jika tidak, selat itu akan tetap ditutup.
Menggambarkan Selat Hormuz sebagai kapasitas pertahanan baru yang kini menjadi bagian dari keamanan nasional Iran, Gharibabadi mengatakan pengaturan pengelolaan masa depan oleh Teheran akan memiliki dampak jangka panjang terhadap keamanan negara. Iran juga menegaskan tidak mengajukan permintaan negosiasi dengan AS dalam 15 hari terakhir.
Iran memperketat cengkeramannya atas Selat Hormuz pada 28 Februari dengan melarang perlintasan aman bagi kapal-kapal milik atau yang terafiliasi dengan Israel dan AS menyusul serangan gabungan kedua negara tersebut ke wilayah Iran. Pembatasan navigasi di Selat Hormuz mengakibatkan lonjakan harga energi global dan memicu eskalasi yang berujung pada gelombang serangan udara AS terhadap Iran.


















