VOICEINDONESIA.CO, Teheran – Korps Garda Revolusi Islam Iran menghentikan tiga kapal tanker minyak yang mencoba melintasi Selat Hormuz pada Kamis (23/7/2026) dengan satu di antaranya meledak dan terbakar setelah berusaha melewati rute yang dipenuhi ranjau di perairan strategis tersebut. Iran memperingatkan kapal manapun yang berani melintas tanpa persetujuan Teheran akan mengalami nasib yang sama.
IRGC menyatakan kapal-kapal tersebut diprovokasi dan dibujuk oleh tentara Amerika untuk melintas di jalur berbahaya tersebut meski Iran sudah menutup selat sejak beberapa pekan lalu.
"Tiga kapal tanker minyak yang diprovokasi dan dibujuk oleh tentara Amerika mencoba melintasi rute selatan yang dipenuhi ranjau di Selat Hormuz, tetapi setelah salah satunya meledak dan terbakar dua kapal lainnya dengan cepat berbalik arah dan kembali," kata IRGC dalam pernyataannya, Kamis (23/7/2026).
IRGC memperingatkan seluruh kapal yang berani melintas tanpa izin Iran akan menghadapi konsekuensi serupa. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah berlangsung sejak eskalasi konflik dengan AS meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Di sisi lain Komando Pusat AS CENTCOM menyebut serangan-serangannya terhadap Iran dimaksudkan untuk makin melemahkan kemampuan Iran mengancam pelaut sipil dan kapal komersial yang melintasi perairan regional. CENTCOM menegaskan AS berhak memastikan kebebasan navigasi di jalur perairan internasional tersebut.
Insiden ini terjadi setelah AS melancarkan serangan ke berbagai wilayah Iran untuk malam ke-12 berturut-turut pada Rabu (22/7/2026). Rudal AS menyerang lokasi-lokasi di dekat Ahvaz, Ramshir, dan Andimeshk, menghantam pembangkit listrik dekat PLTN Bushehr, dan menewaskan dua orang di Kota Shalamcheh di perbatasan Iran-Irak.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya memperingatkan AS akan mengebom dan menghancurkan satu jembatan atau pembangkit listrik setiap kali Iran menembak sebuah kapal di selat tersebut. Trump menegaskan AS tidak akan membiarkan Iran mengendalikan jalur pelayaran internasional yang menjadi jalur transit sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi membalas dengan mengumumkan doktrin pertahanan mata ganti mata dan memperingatkan seluruh infrastruktur AS di kawasan menjadi target potensial.
"Setiap agresi terhadap Iran termasuk infrastruktur kami akan dibalas dengan respons yang kuat dan tegas," kata Araghchi.
Penutupan Selat Hormuz telah mengguncang pasar energi global dengan harga minyak dunia melonjak tajam sejak konflik AS-Iran kembali memanas. Negara-negara importir minyak termasuk Indonesia dan India kini menghadapi tekanan pasokan energi akibat terganggunya jalur pelayaran paling strategis di dunia tersebut.

















