
BNPB Bangun Gudang Makanan di Papua Atasi Kelaparan

VOICEIndonesia.co, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membangun gudang makanan di Sinak dan Agandugume, Kabupaten Puncak, Papua Tengah, untuk mengatasi ancaman kelaparan bagi masyarakat setempat yang dipicu oleh fenomena iklim embun upas.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Senin (04/08/2024), mengatakan total anggaran yang digunakan untuk membangun dua gudang cadangan makanan tersebut senilai lebih dari Rp82miliar menggunakan Dana Siap Pakai (DSP) BNPB.
Ia mengatakan untuk gudang makanan di Kecamatan Sinak sudah selesai dan sudah berisi cadangan bahan makanan yang saat ini siap didistribusikan kepada masyarakat dibantu personel TNI Komando Daerah Militer XVII/Cenderawasih.
Namun, Abdul menyebutkan untuk gudang di Kecamatan Agandugume masih dalam proses pembangunan karena sulitnya akses dan sempat ada gangguan konflik horisontal dari kelompok tertentu hingga pasukan TNI harus turun ke lapangan melakukan pengamanan.
"Gangguan itu sudah berhasil diselesaikan oleh TNI dan selagi gudang masih proses pembangunan, maka makanan dari gudang Sinak diangkut untuk didistribusikan ke masyarakat di Agandugume," katanya dalam siaran daring bertajuk disaster briefing BNPB.
Baca Juga: Imigrasi Atambua deportasi enam WNA Timor Leste
Ia menjelaskan fenomena iklim embun upas merupakan ancaman serius yang hampir setiap tahun mengakibatkan warga masyarakat Sinak - Agandugume kekurangan makanan hingga menjadi ancaman kelaparan.
Embun upas merupakan fenomena munculnya embun dingin atau salju beku pada medio Juli, Agustus hingga awal September yang membekukan permukaan lahan. Hal ini sama seperti yang terjadi di wilayah pegunungan Dieng, Jawa Tengah.
Namun masalahnya, menurut dia, embun upas ini signifikan berdampak bagi masyarakat Puncak Papua karena telah membekukan hingga merusak hasil bumi, seperti umbi-umbian dan sejenisnya sebagai sumber makanan yang mereka tanam dan disimpan di tanah.
Data sejarah yang dihimpun BNPB dampak cuaca iklim yang melanda di Papua itu berlangsung mulai dari tahun 1997, 1998, 2015, 2018, 2019 dan 2022.
BNPB melaporkan jalur penerbangan udara dibuka tahun 2023 dari Timika ke Sinak, namun tidak semua pesawat bisa mendarat di Agandugume dengan waktu 40 menit -1 jam penerbangan atau bisa lebih karena landasan udara yang ada di sana belum memadai.
Distribusi makanan hanya bisa dilakukan pesawat jenis Caravan dari Timika ke Sinak dilanjutkan perjalanan darat selama dua hari ke Agandugume.
Berkaca dari kondisi tersebut maka Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), BNPB, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah, dan TNI, pada tahun 2023 berkomitmen kondisi kekurangan makanan tersebut tidak boleh terulang lagi tahun ini oleh masyarakat, dengan membangunkan gudang makanan.*
Pilihan Redaksi
ImigrasiBantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani
⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.
Baca Juga
Komentar (0)
Login dulu untuk meninggalkan komentar.
Paling Banyak Dibaca

BNN Jatim Gagalkan Penyelundupan 5,4 Kilogram Sabu dari Malaysia
Daerah

Selat Hormuz Tetap Ditutup Sebelum AS Terima Syarat dari Iran
Internasional

Bansos Bakal Disalurkan Lewat Kopdes
Ekonomi

RI Usul Keterampilan Masa Depan Jadi Salah Satu Fokus Kerja Sama BRICS
Ketenagakerjaan

Bantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani
Imigrasi
Editorial

Darurat TPPO: Kedubes Arab Saudi Harus Ikut Bertanggungjawab
Editorial

Mengawal Hak Asasi Pelaut Kita dan Peran Vital SPPI di Laut Lepas Taiwan
Editorial

Manipulasi Dokumen: Awal Petaka Pekerja Migran Indonesia
Editorial

Kawal Revisi UU PPMI Demi Keselamatan Pekerja Migran
Editorial

Darurat Mafia Paspor, Dirjen Imigrasi Harus Tegas
Editorial
Komentar Terbaru
Belum ada komentar.



