VOICEINDONESIA.CO, Surabaya - Sekolah Rakyat lakukan evaluasi menyeluruh yang dijadwalkan rampung pada Januari 2026.
Setelah berjalan hampir satu semester, Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat Muhammad Nuh mengungkapkan ada tiga aspek yang menjadi indikator utama keberhasilan penyelenggaraan Sekolah Rakyat.
Evaluasi dilakukan untuk memastikan efektivitas program sejak tahap awal pelaksanaan.
“Sekolah Rakyat sudah hampir satu semester berjalan. Oleh karena itu, saat paling tepat sekarang ini melakukan evaluasi pelaksanaan Sekolah Rakyat,” ujar Muhammad Nuh usai menghadiri Doa Bersama untuk Sumatra di Graha Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Senin (29/12/2025).
Baca Juga: 12 Koridor Jalan Nasional di Sumut Mulai Pulih Pascabencana
Menurut Nuh, aspek pertama yang dievaluasi adalah kondisi fisik dan kesehatan siswa.
Sejak awal masuk, setiap siswa telah dipetakan kondisi kesehatannya, mulai dari berat badan, tinggi badan, tingkat kebugaran, hingga kondisi medis tertentu.
Perubahan tersebut kemudian dibandingkan setelah satu semester pembelajaran berlangsung.
“Waktu masuk dulu seperti apa kondisi kesehatan dan kebugarannya, setelah satu semester apa yang berubah. Ada before and after dari sisi kesehatan dan kebugaran,” jelasnya.
Aspek kedua yang menjadi perhatian adalah perkembangan psikososial dan talenta siswa.
Setiap anak memiliki peta talenta yang dijadikan dasar pendekatan pembelajaran. Sekolah Rakyat, kata Nuh, tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga pada pengembangan potensi unik masing-masing siswa.
“Setiap anak punya kartu talenta. Dari talenta inilah yang ingin kita kembangkan, tidak hanya aspek akademiknya semata,” katanya.
Adapun aspek ketiga adalah capaian akademik siswa. Ketiga pilar tersebut menjadi fondasi penilaian perkembangan peserta didik Sekolah Rakyat secara menyeluruh.
Sebagai contoh, Nuh menuturkan kisah seorang siswa bernama Azril dari Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi yang pada awal masuk belum mampu membaca dan menulis akibat kondisi tertentu. Melalui pendekatan berbasis pemetaan talenta dan motivasi, kemampuan akademik Azril berkembang signifikan.
“Awalnya tidak bisa baca-tulis. Tapi setelah diketahui peta talentanya dan diberikan pendekatan yang tepat, Alhamdulillah sekarang sudah bisa membaca dan menulis, bahkan ranking tiga di kelasnya,” ungkap Nuh.
Ia menegaskan, pendekatan berbasis talenta menjadi ciri khas Sekolah Rakyat dalam menggali potensi siswa yang sebelumnya tidak terlihat hingga berkembang menjadi kompetensi nyata.
Hasil evaluasi Sekolah Rakyat tidak hanya diukur melalui indikator konvensional, tetapi juga melalui dampak sosial dengan pendekatan Social Return on Investment (SROI).
“Sekolah Rakyat bukan profit oriented, tapi investasi sosial. Yang kita ukur adalah nilai sosial yang dihasilkan, bukan sekadar jumlah lulusan,” tegas Nuh.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Sosial (Mensos), Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul menyampaikan bahwa penyelenggaraan Sekolah Rakyat di 166 daerah secara umum berjalan dengan baik, meskipun masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang terus dibenahi.
“Alhamdulillah secara umum Sekolah Rakyat bisa terselenggara dengan baik. Kita mulai melihat hasil dari proses belajar mengajar yang dijalankan,” ujar Gus Ipul.
Ia menyebutkan, sejak dimulai pada Juli 2025, evaluasi terus dilakukan seiring bertambahnya jumlah daerah penyelenggara. Gus Ipul mengaku terharu melihat mulai munculnya bakat dan potensi siswa Sekolah Rakyat.
“Saya merasa terharu karena mulai nampak bakat-bakat dari siswa Sekolah Rakyat,” katanya.
Sejak awal, siswa Sekolah Rakyat tidak diseleksi melalui tes akademik.
Tahapan dimulai dari pemeriksaan kesehatan, kemudian dilanjutkan pemetaan talenta menggunakan teknologi DNA Talent berbasis kecerdasan buatan untuk mengidentifikasi minat, bakat, dan potensi siswa.
“Dari situ kita bisa membimbing dan mengarahkan mereka kelak berprofesi di bidang yang sesuai,” kata Gus Ipul. (af/hi)
Pilihan Redaksi: PR Sistemik : Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Harus Direformasi Total