
Kisah Cak Sukri, PMI Purna Sukses Raup Omset Rp50 Juta Perbulan
VOICEINDONESIA.CO, Jember – Kepala Biro Hukum dan Humas Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), Hadi Wahyuningrum kunjungi tempat usaha Pekerja Migran Indonesia (PMI) Purna yang sukses di Watu Ulo, Jember, Jumat (20/12/2024).
Pekerja Migran Purna sukses tersebut bernama Subakri Firdaus, yang pernah bekerja di Malaysia sejak tahun 1995.
Selama di Malaysia, Subakri, atau yang kerap disapa Cak Sukri bekerja di bidang konstruksi dan hospitality. Sekembalinya dari Malaysia, Cak Sukri membuka usaha sendiri berupa toko sembako dan membangun koperasi.
Baca Juga: Menaker Pastikan PPN 12 Persen Tidak Abaikan Pelindungan Pekerja
“Tapi tidak banyak orang tahu, jatuh bangun membangun usaha sampai jadi kedai seperti ini, jalannya nggak mulus. Sebelum jadi kedai ini, bahkan harus nguruk tanah sendiri,” ucapnya.
Di depan awak media dan Komunitas Keluarga Buruh Migran Indonesia (KKBM) Jember, Cak Sukri menyatakan tidak akan kembali lagi bekerja ke Malaysia. Karena dengan usahanya yang sekarang, Ia mempunyai omzet 40-50 juta per bulannya.
“Dari uang hasil kerja dan menabung, saya dan istri saya kebetulan punya pengalaman memasak seafood. Nah kalau saya kembali ke Malaysia, belum tentu saya dapat gaji lebih banyak dari yang saya dapat sekarang,” ujarnya.
Kepala Biro Hukum dan Humas KP2MI, Hadi Wahyuningrum, kemudian membuka sesi sharing di depan Komunitas Keluarga Buruh Migran Indonesia (KKBM) Jember, tentang apa saja keresahan yang dialami oleh para pekerja migran purna asal Jember dan keluarganya.
Baca Juga: KKP gagalkan penyelundupan 6,44 juta ekor BBL senilai Rp849 miliar
“Kami di pusat berikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Cak Sukri dan komunitas. Sebenarnya kami ingin menerima masukan dan sharing tentang apa saja keresahan kawan-kawan tentang pelindungan pekerja migran saat ini,” ungkap Wahyuningrum yang kerap disapa Yayuk tersebut.
Sharing dan masukan tersebut, menurut Yayuk akan didata dan ditindaklanjuti di pusat dengan pembentukan regulasi baru.
“Contohnya, dari data yang akan kami kumpulkan, jika di Jember dekat dengan laut, maka pemberdayaan akan berkutat pada pengolahan hasil laut, dan sebagainya,” ungkapnya.
Kawan-kawan KKBM menurut Yayuk juga bermanfaat bagi lembaga pemerintahan, karena mereka lah ujung tombak pelindungan dan pemberdayaan di daerah pelosok.
“Banyak laporan juga kawan-kawan komunitas yang menerima aduan dan membantu calon pekerja migran yang diperas oleh oknum, maupun membantu berikan pelatihan keahlian. Hal ini membuktikan bahwa lembaga pemerintah tidak dapat bekerja sendirian, kolaborasi adalah solusinya,” pungkas Yayuk.*
Pilihan Redaksi
ImigrasiBantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani
⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.
Baca Juga
Komentar (0)
Login dulu untuk meninggalkan komentar.
Paling Banyak Dibaca

BNN Jatim Gagalkan Penyelundupan 5,4 Kilogram Sabu dari Malaysia
Daerah

Selat Hormuz Tetap Ditutup Sebelum AS Terima Syarat dari Iran
Internasional

Bansos Bakal Disalurkan Lewat Kopdes
Ekonomi

RI Usul Keterampilan Masa Depan Jadi Salah Satu Fokus Kerja Sama BRICS
Ketenagakerjaan

Bantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani
Imigrasi
Editorial

Darurat TPPO: Kedubes Arab Saudi Harus Ikut Bertanggungjawab
Editorial

Mengawal Hak Asasi Pelaut Kita dan Peran Vital SPPI di Laut Lepas Taiwan
Editorial

Manipulasi Dokumen: Awal Petaka Pekerja Migran Indonesia
Editorial

Kawal Revisi UU PPMI Demi Keselamatan Pekerja Migran
Editorial

Darurat Mafia Paspor, Dirjen Imigrasi Harus Tegas
Editorial
Komentar Terbaru
Belum ada komentar.



