VOICE Indonesia
Ekonomi

Nilai Tukar Rupiah Terus Melemah, CELIOS Beberkan Dampaknya

Sintia Nur Afifah - VOICEIndonesia.co
Ilustrasi visual menampilkan panah merah menanjak sebagai simbol kenaikan harga dan tekanan inflasi.
Ilustrasi kenaikan harga barang diprediksi terjadi dalam 2–3 bulan ke depan seiring pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.(Foto: Voiceindonesia.co)

VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Nilai tukar rupiah pada Senin (18/5/2026) pagi bergerak melemah 33 poin atau 0,19 persen menjadi Rp17.630 dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.597 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 9.02 WIB di pasar spot exchange, nilai tukar rupiah hari ini merosot 51 poin (0,29%) ke level Rp 17.648 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar terlihat naik 0,06% ke level 99,34.

Center of Economic and Law Studies (CELIOS) memperingatkan akan ada kenaikan harga dalam 2-3 bulan ke depan akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

"Dampak dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS adalah, inflasi dari impor akan mulai naik ke depan terutama akibat biaya distribusi BBM naik, harga barang naik," ujar Direktur Ekonomi Digital CELIOS Nailul Huda saat dihubungi VOICEINDONESIA.CO, Minggu (17/5/2026) malam.

Nailul menjelaskan imported inflation akan terjadi terutama untuk barang yang terkait impor baik bahan baku, penolong, ataupun konsumsi. Yang sudah mulai terasa adalah harga plastik.

"Akan ada kenaikan harga dalam 2-3 bulan ke depan. Yang sudah mulai adalah plastik karena barangnya langka, distribusi mahal, sekalinya dapet, nilai rupiahnya melemah. Akan semakin mahal harga plastik ke depan," katanya.

Barang-barang yang menggunakan plastik juga meningkat harganya. Termasuk untuk barang elektronik yang juga ada komponen plastiknya ditambah komponen lainnya yang sebagian besar masih impor.

"Apakah di desa gak ada plastik? Tentu saja banyak dan itu menggerus dompet masyarakat desa juga. Termasuk untuk barang elektronik yang juga ada komponen plastiknya," ujarnya.

Nailul menjelaskan barang-barang yang berkaitan dengan pertanian seperti pupuk juga terdampak karena bahan baku pupuk sebagian besar dari impor seperti gas.

"Termasuk juga barang-barang yang berkaitan dengan pertanian, seperti pupuk. Bahan baku pupuk itu sebagian besar dari impor, seperti gas. Ketika pasokan terganggu, rupiah melemah, maka yang terjadi adalah kenaikan harga pupuk," jelasnya.

Harga pupuk yang naik pasti mengganggu sektor pertanian dan mengganggu masyarakat di perdesaan.

"Jadi klaim Prabowo bahwa dolar naik, masyarakat desa tidak terdampak itu adalah klaim yang keliru. Belum lagi harga-harga pada naik, ya masyarakat di desa juga merasakan," tegasnya.

Pilihan Redaksi

Bantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus RuhyaniImigrasi

Bantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani

VOICE Indonesia· 16 July 2026
Lihat berita ini di Google News
Ikuti VOICE Indonesia di Google News untuk update terbaru
Channel WhatsApp
Dapatkan Berita VOICE Indonesia Langsung di WhatsApp
Follow

⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.

Baca Juga

Komentar (0)

Login dulu untuk meninggalkan komentar.