VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini menilai Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang terkontraksi ke level 46,9 pada Juni 2026 sebagai indikasi sektor industri sedang sakit lama dan kini masuk zona bahaya merah. Kondisi ini dinilai membutuhkan kebijakan yang lebih konsisten untuk meningkatkan daya saing manufaktur jangka panjang.
Didik menegaskan angka PMI di bawah level 50 menunjukkan sektor industri sedang menghadapi tantangan serius yang tidak bisa diabaikan.
"Angka PMI ini merupakan indikasi sektor industri kita sakit lama dan sekarang masuk zona bahaya merah pada level indeks di bawah 50," kata Didik dalam keterangannya, Jumat (10/7/2026).
Didik menilai penurunan PMI manufaktur ini seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat transformasi industri nasional melalui investasi berkualitas dan perbaikan iklim usaha. Penguatan sektor industri menjadi penting karena pertumbuhan ekonomi memerlukan dukungan aktivitas manufaktur yang kuat, investasi produktif, dan penciptaan lapangan kerja.
Di sisi lain Menko Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis perekonomian Indonesia akan kembali menguat pada kuartal III dan kuartal IV 2026. Airlangga merespons kondisi tersebut dengan menilai tingkat keyakinan konsumen masih berada di level aman meski Indeks Keyakinan Konsumen turun dari 120,9 pada Mei menjadi 117,8 pada Juni 2026.
"IKK masih di atas 100, aman, kemarin kan ada Lebaran, biasanya habis Lebaran turun sedikit," kata Airlangga saat ditemui di kantornya di Jakarta, Jumat (10/7/2026).
Airlangga meyakini tren pelemahan ini bersifat sementara dan ekonomi akan kembali naik menjelang akhir tahun.
"Ya nanti kita lihat menjelang kuartal III, kuartal IV akan naik lagi," ujarnya.



























