VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda menyatakan kekhawatiran gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akan memburuk dua-tiga bulan ke depan.
Menurutnya, hal ini disebabkan daya beli yang belum membaik karena adanya berbagai tekanan dalam negeri.
"Di sisi lain, daya beli juga belum membaik karena ada berbagai tekanan dalam negeri. Untuk menaikkan harga jual pun produsen akan berpikir seribu kali. Yang ada untuk saat ini margin dipertipis," kata Nailul dalam keterangan tertulisnya kepada VOICEINDONESIA.CO, Minggu (17/5/2026) malam.
Nailul menjelaskan untuk saat ini biaya produksi semakin mahal, sehingga banyak pengusaha yang mengambil sedikit margin dan melakukan efisiensi hingga PHK.
Ia menambahkan, ketika permintaan turun, potensi terjadi PHK sangat tinggi dan ekonomi akan semakin melambat.
"Yang jelas ketika permintaan turun, potensi terjadi PHK sangat tinggi. Saya khawatir PHK ini akan memburuk dua-tiga bulan ke depan. Ekonomi kita akan semakin melambat," ujarnya.
Nailul menjelaskan strategi substitusi impor tidak akan efektif dalam jangka pendek karena produknya belum tentu tersedia di pasar domestik.
"Dipaksakan dalam negeri pun belum tentu produknya tersedia di pasar domestik. Misalkan chip atau semi konduktor yang memang harus impor dari luar. Itu belum bisa disupply dari dalam negeri," katanya.
Dari dampak tersebut ujungnya adalah perusahaan tidak bisa ekspansi, tidak ada penyerapan tenaga kerja, dan utilitas produksi rendah.
"Dari dampak tersebut, ujungnya adalah perusahaan tidak bisa ekspansi, tidak ada penyerapan tenaga kerja, utilitas produksi rendah. Ekonomi akan berjalan lambat, daya beli terpukul, konsumsi rumah tangga akan stagnan. Dengan begitu, seharusnya ini jadi alarm bagi pemerintah," pungkasnya.



























