VOICE Indonesia
Ekonomi

Inflasi Februari Tembus 4,76%, Purbaya Sebut Efek Sementara Diskon Listrik

Sintia Nur Afifah - VOICEIndonesia.co
Inflasi Februari Tembus 4,76%, Purbaya Sebut Efek Sementara Diskon Listrik
Inflasi Februari Tembus 4,76%, Purbaya Sebut Efek Sementara Diskon Listrik
VOICEINDONESIA.CO, Jakarta - Pemberian diskon tarif listrik 50 persen sepanjang Januari-Februari 2025 menciptakan efek basis rendah yang membuat inflasi Februari 2026 meloncat ke 4,76 persen year-on-year (yoy). Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan angka tersebut bersifat temporer dan menyesatkan karena inflasi aktual tanpa distorsi diskon listrik hanya 2,59 persen. Purbaya menjelaskan diskon tahun lalu membuat pengeluaran masyarakat untuk tarif listrik pada Februari 2026 seolah-olah meningkat signifikan. Kondisi ini menciptakan ilusi ekonomi kepanasan (overheated) padahal pertumbuhan baru mulai mengakselerasi dan belum mencapai tahap di mana kapasitas produksi tidak mampu mengimbangi permintaan. Ia menekankan pentingnya memahami inflasi inti yang naik 2,63 persen yoy, didorong peningkatan harga emas dan penguatan permintaan selama Ramadhan 1447 Hijriah yang dimulai pertengahan Februari 2026. Jika dikelompokkan antara komoditas emas dan non-emas, inflasi komponen inti non-emas hanya berkisar 1,4 persen yoy. "Kenapa angka inflasi ini penting, karena orang di luar sering melihat yang angka 4,76 persen tadi dan mereka mulai menunjuk bahwa ekonomi Indonesia kepanasan, dan harus diperlambat padahal kita baru mulai tumbuh lebih cepat," ujar Purbaya di Jakarta, Rabu (11/3/2026). Inflasi komponen bergejolak atau volatile food (pangan) meningkat 4,64 persen yoy karena faktor cuaca dan naiknya permintaan beberapa komoditas seperti daging ayam, ikan segar, dan cabai. Purbaya menilai peningkatan tersebut masih moderat karena berkisar di bawah 5 persen yoy. Sementara inflasi komoditas dengan harga yang diatur pemerintah (administered price) mengalami kenaikan tertinggi yakni 12,66 persen yoy. Kenaikan ini juga dipicu efek basis rendah diskon tarif listrik dan diperkirakan akan mulai mereda pada Maret 2026.

Baca Juga : Remitansi PMI Rp288 Triliun Gerakkan Ekonomi Desa pada 2025 "Ini terutama bersifat temporer naiknya akibat low base effect dari diskon listrik pada awal tahun 2025," ujarnya. Purbaya memastikan dampak kenaikan harga komoditas termasuk minyak mentah akan tetap dikelola pemerintah melalui peran APBN sebagai penyerap guncangan. Langkah ini untuk menjaga daya beli masyarakat dan memelihara stabilitas fiskal di tengah gejolak harga global. Meskipun tercatat tinggi pada awal Ramadan, Purbaya memastikan tingkat inflasi secara keseluruhan masih terjaga dalam rentang target 2,5 persen plus minus 1 persen menjelang Idul Fitri. Kinerja ekonomi yang positif juga semakin inklusif tercermin dari peningkatan penyerapan tenaga kerja dan penurunan tingkat pengangguran. "Tanpa pengaruh diskon listrik, inflasi Februari diperkirakan hanya 2,59 persen," jelasnya. Purbaya menegaskan stabilitas harga tetap terjaga dengan inflasi yang terkendali. Kinerja ekonomi positif semakin inklusif tercermin dari peningkatan penyerapan tenaga kerja, penurunan tingkat pengangguran, serta berlanjutnya tren penurunan kemiskinan menjelang hari raya Idul Fitri. (Sin/Ah) Pilihan Redaksi : Berhenti Memanjakan “Scammer”, Saatnya Indonesia Meniru Ketegasan Korea Selatan

Baca Berita Lainnya di Google News

Pilihan Redaksi

Anggaran Penanganan Korban di Komnas Perempuan Jadi SorotanNasional

Anggaran Penanganan Korban di Komnas Perempuan Jadi Sorotan

Afifah· 16 July 2026
#Inflasi Februari#listrik#Menkeu purbaya
Lihat berita ini di Google News
Ikuti VOICE Indonesia di Google News untuk update terbaru
Channel WhatsApp
Dapatkan Berita VOICE Indonesia Langsung di WhatsApp
Follow

⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.

Baca Juga

Komentar (0)

Login dulu untuk meninggalkan komentar.