VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Anggota Panja RUU Ketenagakerjaan sekaligus Anggota Komisi IX DPR RI, Zainul Munasichin mengatakan hilirisasi dan pengembangan industri turunan perlu diperkuat agar investasi dapat dikonversi menjadi lapangan kerja dalam jumlah lebih besar.
Menurut Zainul, sebagian besar investasi yang masuk saat ini masih berorientasi pada sektor padat modal sehingga belum otomatis menghasilkan penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar.
“Sektor-sektor investasi yang ada dalam ranking tertinggi adalah padat modal. Nah bagaimana caranya agar investasi ini membuka lapang kerja dalam jumlah yang besar? Maka mau tidak mau, pemerintah harus memikirkan agar hilirisasi itu betul-betul bisa terjadi. Industri-industri turunan harus segera dibuat,” kata Zainul dalam diskusi CSIS mengenai arah kebijakan ketenagakerjaan yang diikuti secara daring di Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Zainul menyebut berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi pada kuartal II 2026 mencapai Rp511,8 triliun. Angka tersebut meningkat sekitar 7 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang sebesar Rp477 triliun.
Pada periode tersebut, investasi menyerap 742.293 tenaga kerja atau meningkat 5,1 persen.
Jika dilihat dari komposisinya, sekitar 37,1 persen investasi merupakan investasi padat modal, 23,1 persen padat karya, dan 39,8 persen investasi dengan karakter moderat.
Investasi padat modal tersebut antara lain banyak masuk ke sektor industri logam, barang, mesin dan peralatan, serta pertambangan.
Sementara itu, investasi hilirisasi juga mengambil porsi signifikan. Pada semester I 2026, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun atau sekitar 29,7 persen dari total investasi nasional.
Menurut Zainul, kondisi tersebut perlu dilihat bersama sejumlah faktor yang memengaruhi penyerapan tenaga kerja. Ia menyebut setiap satu tenaga kerja yang tercipta saat ini membutuhkan investasi sekitar Rp689 juta.
Kondisi itu menunjukkan investasi yang cenderung padat modal tidak secara otomatis menghasilkan penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar.
Selain komposisi investasi, faktor lain yang dapat memengaruhi penyerapan tenaga kerja antara lain otomatisasi, rantai pasok, serta ketidaksesuaian atau mismatch antara kebutuhan industri dan kompetensi tenaga kerja.
Karena itu, Zainul menilai pengembangan industri turunan penting dilakukan agar investasi tidak berhenti pada kegiatan produksi yang membutuhkan modal besar, tetapi membentuk rantai industri yang lebih luas.
“Ini termasuk kalau dibandingkan dengan negara-negara lain, ini relatif high cost, dimana investasi tidak terkonversi maksimal dalam penyediaan lapangan kerja,” katanya.
Zainul mengatakan penguatan hilirisasi dan industri turunan perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi tenaga kerja. Dengan demikian, investasi yang masuk diharapkan dapat menciptakan lebih banyak lapangan kerja sekaligus meningkatkan produktivitas.
Pemerintah juga perlu memperkuat rantai pasok domestik agar manfaat investasi dapat dirasakan lebih luas. Pengembangan industri pengolahan dan industri turunan dinilai dapat memperluas kesempatan kerja sekaligus memperkuat basis industri nasional. (af)



























