
Pelaku Usaha Mulai Menderita Kenaikan Ongkos Angkut Akibat Perang di Timur Tengah

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan kendala utama yang dihadapi pelaku usaha saat ini adalah meningkatnya biaya logistik atau pengangkutan barang akibat situasi keamanan di kawasan. Namun permintaan dari negara-negara Timur Tengah terhadap produk Indonesia tidak mengalami penurunan.
"Yang menjadi naik itu (biaya) angkutannya," katanya usai rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Pangan pada Jumat (13/3/2026). Informasi mengenai kondisi ekspor tersebut diperoleh dari laporan pelaku usaha yang tergabung dalam Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia. Para eksportir menyampaikan dampak konflik Timur Tengah terhadap aktivitas pengiriman barang mereka. "Iya, mereka (eksportir) menyampaikan memang ada beberapa pengaruh, terutama untuk ekspor ke Timur Tengah," ujarnya. Meski biaya transportasi meningkat, kegiatan ekspor Indonesia ke kawasan Timur Tengah masih berjalan normal. Para eksportir tetap melanjutkan aktivitas pengiriman barang tanpa menghentikan operasional mereka.Baca Juga : 34 WNI dari Iran Segera Tiba di Tanah Air "Permintaan dari Timur Tengah sebenarnya tidak turun," tegasnya. Mendag berharap kondisi logistik global dapat segera membaik sehingga aktivitas perdagangan dapat berjalan lebih lancar. Stabilnya permintaan dari Timur Tengah menunjukkan produk Indonesia masih diminati meski situasi keamanan kawasan memburuk. Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor Indonesia ke kawasan Timur Tengah mencapai sekitar 9,06 miliar dolar AS atau sekitar 3,5 persen dari total ekspor nasional. Meski angkanya tidak dominan, ekspor ke kawasan ini tetap penting bagi perekonomian Indonesia. Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Oman menjadi negara tujuan utama ekspor Indonesia di kawasan tersebut. Komoditas yang dikirim antara lain minyak sawit dan turunannya, kendaraan dan bagiannya, logam mulia, serta berbagai produk kimia. Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat menyusul konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Selat Hormuz yang merupakan rute utama pengiriman minyak dan berbagai komoditas dari kawasan Teluk menuju pasar global menjadi perhatian khusus. Gangguan pada jalur strategis tersebut berpotensi mempengaruhi biaya logistik dan distribusi perdagangan internasional. Badan Pusat Statistik sebelumnya menyatakan konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi mempengaruhi aktivitas perdagangan global, meskipun dampaknya terhadap perdagangan Indonesia dinilai relatif kecil. (Sin/Ri) Pilihan Redaksi : Pahlawan Devisa Terancam Pancung, Presiden Jangan Hanya Menonton!
Baca Berita Lainnya di Google NewsPilihan Redaksi
ImigrasiBantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani
⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.
Baca Juga
Komentar (0)
Login dulu untuk meninggalkan komentar.
Paling Banyak Dibaca

BNN Jatim Gagalkan Penyelundupan 5,4 Kilogram Sabu dari Malaysia
Daerah

Selat Hormuz Tetap Ditutup Sebelum AS Terima Syarat dari Iran
Internasional

Bansos Bakal Disalurkan Lewat Kopdes
Ekonomi

RI Usul Keterampilan Masa Depan Jadi Salah Satu Fokus Kerja Sama BRICS
Ketenagakerjaan

Bantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani
Imigrasi
Editorial

Darurat TPPO: Kedubes Arab Saudi Harus Ikut Bertanggungjawab
Editorial

Mengawal Hak Asasi Pelaut Kita dan Peran Vital SPPI di Laut Lepas Taiwan
Editorial

Manipulasi Dokumen: Awal Petaka Pekerja Migran Indonesia
Editorial

Kawal Revisi UU PPMI Demi Keselamatan Pekerja Migran
Editorial

Darurat Mafia Paspor, Dirjen Imigrasi Harus Tegas
Editorial
Komentar Terbaru
Belum ada komentar.



