VOICEINDONESIA.CO, Jakarta - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mempercepat penyelesaian hambatan usaha (debottlenecking) untuk memperkuat iklim investasi menyusul peningkatan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur ke 52,6 pada Januari 2026. Angka ini naik dari posisi 51,2 bulan sebelumnya, menandakan ekspansi sektor manufaktur yang semakin solid.
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Febrio Kacaribu menjelaskan penguatan indeks manufaktur Indonesia didorong meningkatnya permintaan domestik dan kenaikan output produksi. Meski dihadapkan pada gangguan rantai pasok global serta pelemahan pesanan ekspor, fundamental industri nasional tetap terjaga.
Optimisme pelaku usaha meningkat ke level tertinggi dalam sepuluh bulan terakhir, menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan ekspansi ekonomi nasional. Optimisme tersebut didukung indikasi perbaikan permintaan eksternal yang tercermin pada kinerja sektor manufaktur mitra dagang utama.
"Pemerintah akan terus memperkuat iklim usaha dan mendorong daya saing industri melalui berbagai langkah, termasuk percepatan penyelesaian hambatan usaha guna memperkuat iklim investasi," ujar Febrio dalam keterangannya di Jakarta, Senin (2/2/2026).
Pada Januari 2026, PMI India tetap ekspansif di 56,8, sementara Amerika Serikat bertahan di zona ekspansi pada 51,9. Di tingkat regional, PMI manufaktur ASEAN secara agregat tercatat 52,8, ditopang oleh kinerja Filipina (52,9) dan Vietnam (52,5).
Baca Juga : Gaji PNS dan Pensiunan Naik? Ini Kata Menkeu Purbaya
Penguatan kinerja manufaktur turut diiringi berbagai indikator ekonomi domestik lainnya. Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 4,4 persen (year-on-year/yoy), didorong peningkatan penjualan makanan dan minuman serta mobilitas masyarakat. Aktivitas konsumsi membaik dengan penjualan sepeda motor meningkat 14,5 persen dan mobil tumbuh 17,9 persen (yoy).
Kinerja positif manufaktur juga terlihat pada kontribusi terhadap nilai tambah ekspor nasional. Pada Desember 2025, ekspor meningkat 11,64 persen (yoy) dengan ekspor nonmigas tumbuh 13,72 persen (yoy), terutama ditopang ekspor industri pengolahan yang naik 19,26 persen (yoy).
"Perkembangan ini menjadi sinyal optimis, sekaligus menegaskan ketahanan serta daya saing eksternal Indonesia di tengah berbagai tantangan domestik maupun global," katanya.
Neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus 2,51 miliar dolar AS pada Desember 2025. Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari–Desember 2025 mencatat surplus 41,05 miliar dolar AS, melanjutkan tren surplus sejak Mei 2020. (Sin/Ah)
Pilihan Redaksi : Menjaga Netralitas: Polri Wajib di Bawah Komando Langsung Presiden
Baca Berita Lainnya di Google News