VOICE Indonesia
Hukum

Miris! Remaja 15 Tahun Diduga Jadi Korban TPPO di Taiwan, Ayah Korban: "Celine Menangis dan Minta Pulang"

Redaksi - VOICEIndonesia.co
Miris! Remaja 15 Tahun Diduga Jadi Korban TPPO di Taiwan, Ayah Korban: "Celine Menangis dan Minta Pulang"
Miris! Remaja 15 Tahun Diduga Jadi Korban TPPO di Taiwan, Ayah Korban: "Celine Menangis dan Minta Pulang"
VOICEINDONESIA.Jakarta – Tabir gelap dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang menyasar anak di bawah umur kembali terkuak. Seorang remaja berinisial CA (15) diduga kuat dikirim secara ilegal ke Taiwan untuk dieksploitasi sebagai perawat lansia, sebuah temuan yang memicu desakan perlindungan darurat dari berbagai pihak. Laporan ini mencuat setelah RN (inisial) menyampaikan informasi resmi kepada redaksi Voiceindonesia.co pada Minggu (28/12/2025). Kronologi Keberangkatan  Freddi, ayah kandung korban, membeberkan kronologi memilukan mengenai nasib putrinya. Berdasarkan informasi yang dihimpun, CA sempat dibawa ke Bogor bersama enam anak lainnya untuk menjalani pelatihan asisten rumah tangga sebelum akhirnya diterbangkan ke Taiwan. Freddi mengungkapkan bahwa akses komunikasi dengan anaknya sempat diblokir oleh pihak keluarga mantan istrinya. Namun, ia akhirnya berhasil menjalin komunikasi rahasia dan menemukan kenyataan pahit bahwa CA tidak bersekolah sebagaimana yang diklaim sebelumnya, melainkan dipaksa bekerja di luar kapasitas usianya. Dalam surat pengaduan emosional yang disampaikan kepada otoritas terkait, Freddi menggambarkan tekanan psikis dan fisik yang dialami CA di negara penempatan. Ia menegaskan kondisi putrinya dalam kutipan berikut: "Celine menangis dan minta pulang, cuma tidak bisa berbuat banyak karena dia dalam tekanan baik agency maupun mamanya". ungkap Freddi dengan nada getir dalam laporannya. Rasa sakit hati Freddi semakin dalam saat mengetahui putrinya harus mengurus lansia di negeri asing tanpa perlindungan hukum yang jelas. Dalam surat tersebut, ia menuliskan: "Inilah kronologis sesungguhnya, dan saya merasa pedih karena melihat anak kandung saya tersiksa di negara lain (Taiwan)". pungkas Freddi dalam pernyataan tertulisnya. Freddi tidak tinggal diam. Ia telah melaporkan kasus perintangan pertemuan anak ke Polres Bandar Lampung serta meminta bantuan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terkait dugaan perdagangan anak. Ia memohon dengan sangat kepada Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI)/BP2MI, dan Kementerian Luar Negeri untuk segera mengintervensi kasus ini agar CA bisa dipulangkan dengan selamat. Respon KDEI Taipei Merespons laporan ini, redaksi Voiceindonesia.co telah berkomunikasi dengan Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei, Arif Sulistiyo. Saat ini, pihak KDEI dikabarkan sedang mengupayakan langkah-langkah tegas dan terukur untuk menyelamatkan CA dari situasi tersebut. Kasus ini menjadi peringatan keras bagi otoritas terkait mengenai celah pengiriman Pekerja Migran Indonesia (PMI) di bawah umur yang berkedok pelatihan asisten rumah tangga, yang nyatanya berujung pada praktik perdagangan manusia.(red)
Catatan :
Naskah berita ini mengalami perubahan dalam penulisan nama dan jabatan sumber informasi namun tidak mengurangi Bobot berita dan sudah sesuai dengan Ketentuan yang berlaku dalam mengolah informasi publik dan kode etik Jurnalistik.

Pilihan Redaksi

Bantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus RuhyaniImigrasi

Bantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani

VOICE Indonesia· 16 July 2026
#anak dibawah umur#Arif Sulistiyo#human traffiking#KDEI Taipe#pekerja migran#pekerja migran indonesia#tppo
Lihat berita ini di Google News
Ikuti VOICE Indonesia di Google News untuk update terbaru
Channel WhatsApp
Dapatkan Berita VOICE Indonesia Langsung di WhatsApp
Follow

⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.

Baca Juga

Komentar (0)

Login dulu untuk meninggalkan komentar.