VOICE Indonesia
Humaniora

WHO Sebut Tingkat Kematian Wabah Ebola di Kongo Capai 50 Persen

Sintia Nur Afifah - VOICEIndonesia.co
Ilustrasi pengujian sampel virus Ebola di laboratorium di tengah wabah Ebola galur Bundibugyo yang sedang merebak di Republik Demokratik Kongo.
Ilustrasi tabung sampel virus Ebola dalam pemeriksaan laboratorium.(Foto: Voiceindonesia.co)

VOICEINDONESIA.CO, Jenewa – Wabah Ebola galur Bundibugyo yang tengah merebak di Republik Demokratik Kongo kian mengkhawatirkan. Organisasi kesehatan dunia atau The World Health Organization (WHO) memperingatkan tingkat kematian akibat virus ini bisa mencapai 50 persen, jauh lebih mematikan dibanding wabah Ebola pada umumnya.

Pejabat teknis program kedaruratan kesehatan WHO Anais Legand menyampaikan angka itu berdasarkan data wabah Bundibugyo sebelumnya yang mencatat tingkat kematian pasien terkonfirmasi di kisaran 30 hingga 50 persen.

"Angka ini sangat tinggi. Artinya, hingga lima dari setiap 10 orang kemungkinan akan meninggal," kata Legand dalam pengarahan di Jenewa, Jumat (29/5/2026).

Hingga 28 Mei 2026, tercatat 125 kasus terkonfirmasi termasuk 17 kematian di 13 zona kesehatan. Secara keseluruhan data WHO mencatat 906 kasus suspek dan 223 kematian akibat wabah ini, sementara jumlah kasus baru diperkirakan terus bertambah seiring meluasnya pengujian terhadap masyarakat.

Di tengah situasi genting itu, vaksin yang dibutuhkan belum tersedia. Kandidat paling menjanjikan yakni vaksin rekombinan rVSV Bundibugyo yang dikembangkan International AIDS Vaccine Initiative masih membutuhkan tujuh hingga sembilan bulan untuk rampung. Kandidat lain yaitu ChAdOx1 Bundibugyo dari Universitas Oxford dan Serum Institute of India diperkirakan bisa tersedia dalam dua hingga tiga bulan untuk dievaluasi melalui uji klinis.

WHO menegaskan tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan maupun perdagangan dengan RDK dan Uganda, namun kedua negara tetap diwajibkan melakukan pemeriksaan ketat terhadap seluruh pelaku perjalanan yang akan berangkat. Kekhawatiran penyebaran ke negara lain pun meluas, terbukti dari permintaan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni kepada pimpinan Uni Eropa untuk meningkatkan koordinasi pengawasan perbatasan menyusul merebaknya wabah ini.

Pilihan Redaksi

Bantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus RuhyaniImigrasi

Bantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani

VOICE Indonesia· 16 July 2026
Lihat berita ini di Google News
Ikuti VOICE Indonesia di Google News untuk update terbaru
Channel WhatsApp
Dapatkan Berita VOICE Indonesia Langsung di WhatsApp
Follow

⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.

Baca Juga

Komentar (0)

Login dulu untuk meninggalkan komentar.