VOICEINDONESIA.CO, Teheran – Nota kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat mulai membuahkan hasil konkret di sektor energi. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengakui penjualan minyak dan produk petrokimia negaranya kini jauh lebih lancar pasca penandatanganan kesepakatan dengan AS.
"Kondisi penjualan minyak dan produk petrokimia menjadi jauh lebih mudah," kata Baghaei dalam konferensi pers di Teheran, Rabu (1/7/2026).
Kelancaran ini didukung langkah konkret dari pihak AS. Kantor Pengawasan Aset Asing Departemen Keuangan AS menerbitkan lisensi umum yang mengizinkan transaksi terkait produksi, penjualan, pengiriman, dan pembongkaran minyak, produk petrokimia, serta produk minyak bumi Iran hingga 21 Agustus 2026.
Nota kesepahaman antara kedua negara ditandatangani secara jarak jauh pada 18 Juni dini hari, memuat kesepakatan untuk mengakhiri konflik militer yang pecah pada 28 Februari, sekaligus menetapkan jadwal AS untuk mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Iran di sisi lain berkomitmen memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz sesuai tahapan yang disepakati.
Pemulihan akses ekspor minyak Iran ini menjadi sinyal penting bagi pasar energi global yang selama berbulan-bulan terguncang akibat konflik AS-Iran. Sebelum perang meletus, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintasi Selat Hormuz setiap harinya. Penutupan jalur tersebut sempat memicu lonjakan harga minyak dunia, mendorong inflasi di berbagai negara termasuk AS, dan memperburuk kondisi ekonomi global secara luas.
Kini dengan dibukanya kembali Selat Hormuz dan dilonggarkannya sanksi secara bertahap, Iran berpeluang kembali memasok minyaknya ke pasar internasional dalam skala yang lebih besar, sesuatu yang sempat terhambat selama bertahun-tahun akibat tekanan sanksi ekonomi dari Washington.



























