VOICEINDONESIA.CO, Manila – Presiden Filipina Ferdinand Romualdez Marcos selaku ketua ASEAN 2026 menyatakan KTT diselenggarakan di tengah tantangan yang cukup besar. Situasi yang semakin tidak stabil di Timur Tengah telah berdampak terhadap negara-negara ASEAN, sementara berbagai ketidakpastian besar mengancam gaya hidup, mata pencaharian, dan kehidupan masyarakat.
KTT dan sejumlah pertemuan terkait diadakan dari Kamis (7/5/2026) hingga Jumat (8/5/2026). Pertemuan tingkat tinggi ini berlangsung di tengah meningkatnya biaya energi dan kenaikan harga di seluruh negara anggota ASEAN akibat krisis minyak global.
Gangguan meluas di berbagai sektor ekonomi melanda kawasan ASEAN seiring eskalasi konflik di Timur Tengah. Selain itu, meningkatnya risiko keamanan bagi warga negara ASEAN di kawasan Timur Tengah juga menjadi perhatian utama para pemimpin negara anggota.
Para pemimpin negara-negara anggota ASEAN akan membahas sejumlah topik penting dalam pertemuan tersebut. Agenda pembahasan termasuk dukungan terhadap integrasi penuh Timor-Leste ke dalam blok regional serta perkembangan terbaru di Myanmar.
ASEAN yang dibentuk pada 1967 kini beranggotakan Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Timor-Leste. Timor-Leste bergabung dengan blok ini pada KTT ASEAN ke-47 di Malaysia pada Oktober tahun lalu sebagai anggota terbaru.
Dampak krisis minyak global terhadap stabilitas ekonomi kawasan menjadi salah satu fokus utama pembahasan para pemimpin ASEAN. Kenaikan harga energi yang signifikan telah mempengaruhi daya beli masyarakat dan mengancam pertumbuhan ekonomi negara-negara anggota.
Keamanan warga ASEAN di Timur Tengah juga mendesak untuk dibahas mengingat ribuan pekerja migran dari kawasan berada di zona konflik. Para pemimpin diharapkan merumuskan langkah konkret untuk melindungi dan jika diperlukan mengevakuasi warga negara mereka dari kawasan yang semakin tidak aman.



























