VOICEINDONESIA.CO, Jakarta - Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (Wamen P2MI), Christina Aryani mengakui sensitivitas terhadap isu pelindungan pekerja migran di Albania belum optimal selama ini.
Pengakuan ini terungkap saat pertemuan daring dengan Duta Besar RI untuk Bulgaria merangkap Albania dan Makedonia Utara, Listiana Operananta pada Senin (26/1/2026). Christina mengungkapkan beberapa kasus yang melibatkan PMI di Albania tidak disampaikan secara proaktif sehingga KBRI harus turun langsung ke lapangan.
"Untuk Albania, kami mendorong agar MoU disusun lebih rigid, karena selama ini sensitivitas terhadap isu pelindungan pekerja migran belum optimal," katanya.
Pernyataan ini membeberkan kegagalan sistem pelindungan PMI di Albania yang tidak berjalan efektif. Kasus-kasus yang menimpa PMI tidak dilaporkan dengan baik sehingga memaksa KBRI melakukan intervensi langsung, menunjukkan lemahnya koordinasi dan mekanisme pelaporan.
Christina menekankan perlunya pengaturan yang lebih ketat dalam MoU dengan Albania untuk mengatasi masalah ini. Penyusunan MoU menjadi instrumen penting untuk memastikan penempatan PMI berlangsung aman, teratur, dan terlindungi setelah selama ini gagal memberikan perlindungan memadai.
"Beberapa kasus yang melibatkan PMI tidak disampaikan secara proaktif, sehingga KBRI harus turun langsung ke lapangan," tegasnya.
Baca Juga : Butuh Ribuan Pekerja Baru, Jepang Siapkan Dana Pelatihan untuk PMI
Selain Albania, pemerintah juga membidik peluang penempatan PMI di Bulgaria meski kondisi pemerintahan negara tersebut belum stabil. Peluang terbuka pada sektor perhotelan dan manufaktur dengan kebutuhan tenaga kerja Indonesia saat musim turis diperkirakan mencapai 700-800 orang.
Menteri Tenaga Kerja dan Kebijakan Sosial Bulgaria Borislav Gutsanov menunjukkan komitmen untuk membangun kerja sama melalui penyusunan nota kesepahaman dengan Indonesia. Komunikasi teknis terus dilakukan untuk menyiapkan draf awal yang saat ini sedang dijalankan bersama Kementerian Luar Negeri.
"Bu Dubes menyampaikan Menteri Tenaga Kerja Bulgaria sangat antusias untuk membentuk MoU dengan Indonesia," ungkap Christina.
Sektor manufaktur juga berpotensi berkembang seiring rencana investasi perusahaan Korea Selatan yang akan membangun pabrik otomotif di Bulgaria. Christina meminta peluang ini dijajaki secara lebih intensif agar Indonesia tidak tertinggal mengingat pengalaman panjang dalam penempatan tenaga kerja ke Korea.
MoU dengan kedua negara diharapkan dapat menekan biaya penempatan serta menjamin kesesuaian pekerjaan dengan kontrak. Sebagai tindak lanjut, akan ada pertemuan daring dengan Wakil Menteri Tenaga Kerja Bulgaria setelah konsep teknis MoU disepakati kedua negara. (Sin/Ah)
Pilihan Redaksi : Menakar Urgensi Transformasi Total KemenP2MI demi Perlindungan Paripurna
Baca Berita Lainnya di Google News