
Kepala BP2MI dan HRDK Tinjau Kesiapan Preliminary Education di Graha Insan Cita
VOICEINDONESIA,DEPOK - Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Benny Rhamdani bersama dengan Human Resource Development Korea (HRDK) melakukan tinjauan ke Graha Insan Cita, Depok untuk memastikan sarana dan prasarana yang tersedia untuk para Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) dengan negara penempatan Korea Selatan terkait pelaksanaan Preliminary Education dan karantina.
“Kita ingin memastikan bahwa yang berangkat ke Korea Selatan benar-benar sehat dan dinyatakan negatif Covid-19, sehingga untuk karantina satu kamar hanya berlaku untuk satu orang, kecuali saat Preliminary Education yang dapat diisi oleh dua orang. Hal ini juga berlaku untuk penempatan ke Taiwan,” ujar Benny di Graha Insan Cita, Depok, Selasa (16/11/2021).
Benny menyampaikan, ia tidak ingin CPMI mengeluarkan biaya untuk mengikuti proses Preliminary Education. “Mereka diberangkatkan melalui skema Government to Government (G to G), yang artinya ada keterlibatan dan pengendalian oleh negara, maka untuk akomodasi dan makan tidak boleh dipungut biaya dengan adanya penganggaran. Semangat kita adalah untuk meringankan beban mereka, para CPMI, sebagai bukti kehadiran negara,” pungkas Benny.
Benny juga mengaku, ia mendapatkan informasi yang di luar dugaan, bahwa biaya karantina di Korea Selatan ditanggung oleh PMI dengan biaya sekitar Rp 1.500.000 per hari untuk satu orang PMI.
“Saya langsung kontak Menteri Ketenagakerjaan terkait hal ini. Saya tidak rela jika biayanya dibebankan kepada PMI. Negara harus berupaya agar biaya karantina tidak dibebankan kepada PMI,” ungkap Benny.
Lebih lanjut, Benny memaparkan, jika PMI dinyatakan positif Covid-19 dan harus menjalani perawatan, maka biaya bisa mencapai Rp 58 juta untuk kondisi ringan dan hingga Rp 600 juta untuk kondisi berat. Oleh karena itu, protokol kesehatan harus diberlakukan secara ketat.
Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia, Ahnas, menyampaikan saat ini sudah dianggarkan dana untuk proses Preliminary Education yang ditujukan untuk memfasilitasi 650 orang CPMI, yakni di Cirebon sebanyak 200 orang, di Semarang sebanyak 200 orang, dan di Graha Insan Cita, Depok sebanyak 250 orang.
“Terkait tenaga pengajar, kami melibatkan Unit Pelaksana Teknis (UPT) BP2MI Wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah, serta Aparatur Sipil Negara (ASN) dari BP2MI dan Kementerian/Lembaga terkait. Untuk pengajar bahasa dan kebudayaan Korea Selatan, kami bekerja sama dengan Universitas Indonesia dan Universitas Nasional untuk di Jakarta, komunitas PMI purna untuk di Cirebon dan Semarang,” papar Ahnas. **
Pilihan Redaksi
Pekerja Migran IndonesiaPHK Meningkat, Pemerintah Diminta Perluas Penempatan PMI
⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.
Baca Juga
Komentar (0)
Login dulu untuk meninggalkan komentar.
Paling Banyak Dibaca

PHK Meningkat, Pemerintah Diminta Perluas Penempatan PMI
Pekerja Migran Indonesia

DPR Minta KP2MI Tingkatkan Transparansi Informasi Peluang Kerja Luar Negeri
Pekerja Migran Indonesia

DPR RI Minta Pemerintah Perketat Pengawasan Imigrasi di Pintu Keberangkatan PMI
Pekerja Migran Indonesia

Narapidana Lapas Porong Gagal Terima Paket Ekstasi
Daerah

Dugaan TPPO dan Lalainya Negara Terhadap Ruhyani
Lipsus
Editorial

Darurat TPPO: Kedubes Arab Saudi Harus Ikut Bertanggungjawab
Editorial

Mengawal Hak Asasi Pelaut Kita dan Peran Vital SPPI di Laut Lepas Taiwan
Editorial

Manipulasi Dokumen: Awal Petaka Pekerja Migran Indonesia
Editorial

Kawal Revisi UU PPMI Demi Keselamatan Pekerja Migran
Editorial

Darurat Mafia Paspor, Dirjen Imigrasi Harus Tegas
Editorial
Komentar Terbaru
Belum ada komentar.



