VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Yassierli mengatakan dunia usaha mulai mengeluhkan ketidaksiapan tenaga kerja dalam menghadapi disrupsi teknologi. Karena itu, penguasaan keterampilan masa depan atau future skills perlu menjadi perhatian bersama seluruh pemangku kepentingan.
"Sudah mulai banyak teriak perusahaan terkait ketidaksiapan dalam menghadapi disrupsi teknologi. Ini harus kita pikirkan bersama," kata Yassierli pada Selasa (23/6/2026).
Ia mengungkapkan sejumlah indikator menunjukkan kualitas ketenagakerjaan Indonesia masih tertinggal dibanding negara lain. Berdasarkan data Bank Dunia, Human Capital Index (HCI) Indonesia masih berada di angka 0,54 atau baru mencapai sekitar separuh dari kapasitas produktivitas ideal.
Selain itu, kemampuan digital tenaga kerja Indonesia juga masih relatif rendah. Persentase pekerja yang memiliki keterampilan digital tingkat menengah hingga lanjut disebut baru mencapai 14 persen, jauh di bawah negara-negara maju yang rata-ratanya dapat menyentuh 40 persen.
"Dibandingkan rata-rata benchmark negara maju yang bisa sampai 40 persen, kita baru 14 persen untuk skill digital yang tingkatannya intermediate atau advanced," ujarnya.
Menurut Yassierli, produktivitas tenaga kerja Indonesia juga masih berada di bawah rata-rata negara-negara ASEAN. Kondisi tersebut menuntut penguatan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, industri, serta organisasi pekerja agar peningkatan kompetensi tenaga kerja dapat berjalan lebih efektif.
Ia menilai sinergi seluruh pihak diperlukan untuk menciptakan hubungan industrial yang harmonis, produktif, dan berkeadilan sekaligus mempercepat peningkatan daya saing SDM Indonesia di tengah persaingan global yang semakin ketat.














