VOICE Indonesia
Nasional

30 Ribu Gedung Koperasi Merah Putih Siap Diresmikan Juli-Agustus 2026

Sintia Nur Afifah - VOICEIndonesia.co
Peresmian Koperasi Desa Merah Putih di Kecamatan Bawangan, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.
Peresmian Koperasi Desa Merah Putih di Kecamatan Bawangan, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.(Foto: VOICEINDONESIA.CO/ist)

VOICEINDONESIA.CO, Semarang – Kementerian Koperasi (Kemenkop) akan meresmikan sekitar 30.000 bangunan gedung koperasi merah putih yang sudah siap beroperasi pada Juli-Agustus 2026.

Asisten Deputi Digitalisasi Koperasi Kementerian Koperasi Riza Azmi menyatakan peresmian massal ini merupakan bagian dari fase kedua program koperasi merah putih yakni fase pembangunan dan operasional. Saat ini sudah terbentuk setidaknya 7.000 bangunan koperasi merah putih yang 100 persen siap beroperasi.

"Sekarang kita masuk ke fase kedua ya, fase pembangunan dan fase operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih," ujarnya di Semarang, Jawa Tengah, pada Rabu (06/05/2026).

Riza menjelaskan ada beberapa tahapan atau fase dalam program koperasi merah putih. Fase pertama yakni fase kelembagaan sudah dilewati dengan terbentuknya sekitar 80.000 lebih koperasi merah putih dari sisi kelembagaan, badan hukum dan aspek administrasi lainnya.

"Untuk yang fase satu sudah dilewati ya, yaitu fase kelembagaan. Sudah terbentuk sekitar 80.000 lebih (koperasi merah putih, red.) dari sisi kelembagaan, dari sisi badan hukum dan seterusnya," ungkap Riza.

Peresmian 30.000 gedung koperasi merah putih yang siap beroperasi dijadwalkan pada kisaran Juli-Agustus 2026. Peresmian massal ini akan menyusul 7.000 bangunan yang sudah lebih dulu beroperasi dan menandai percepatan implementasi program koperasi merah putih di seluruh Indonesia.

Riza menyampaikan tantangan yang dihadapi koperasi merah putih saat ini adalah pemerataan akses, misalnya terkait jaringan listrik dan internet. Infrastruktur dasar ini penting untuk mendukung operasional koperasi di berbagai daerah.

"Yang kedua sebenarnya dari sisi digitalisasi, terkait dengan indeks Masyarakat Digital (IMDI) yang sebenarnya itu masih belum seragam," katanya.

Ada beberapa daerah yang masyarakatnya memiliki tingkat literasi digital tinggi, tapi di daerah-daerah lain mungkin masih perlu pembinaan. Kesenjangan literasi digital ini menjadi tantangan dalam mengoperasikan koperasi yang sudah menerapkan sistem digitalisasi.

Untuk lahan, Riza mengakui ada tantangan untuk mencari lahan seluas minimal 1.000 meter persegi untuk bangunan berukuran 20x30 meter. Namun pemerintah sudah menyiapkan solusi dengan desain alternatif untuk lahan yang lebih kecil.

"Nanti ada sebenarnya ada desain kedua yang sebenarnya untuk lahan-lahan yang di bawah 1.000 m persegi. Cuma ini lagi masih baru disiapkan," pungkasnya.

Riza menyampaikan hal tersebut saat menjadi pembicara pada Workshop Media "Cerita Koperasi Desa Jadi Berita Bermakna" yang digelar Direktorat Ekosistem Media, Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media, Kementerian Komunikasi dan Digital.

Pilihan Redaksi

Bantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus RuhyaniImigrasi

Bantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani

VOICE Indonesia· 16 July 2026
Lihat berita ini di Google News
Ikuti VOICE Indonesia di Google News untuk update terbaru
Channel WhatsApp
Dapatkan Berita VOICE Indonesia Langsung di WhatsApp
Follow

⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.

Baca Juga

Komentar (0)

Login dulu untuk meninggalkan komentar.