VOICE Indonesia
Nasional

Akademisi Tantang Pemerintah Buktikan Manfaat MBG dengan Data

Sintia Nur Afifah - VOICEIndonesia.co
Tampak tumpukan uang rupiah di depan aktivitas relawan yang sedang menyiapkan paket makanan bergizi di dapur MBG.
Tampak tumpukan uang rupiah di depan aktivitas relawan yang sedang menyiapkan paket makanan bergizi di dapur MBG.

VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prof. Imamudin Yuliandi mendesak pemerintah membuktikan manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan data konkret untuk menangkal tudingan yang beredar di masyarakat.

Imamudin menyatakan pemerintah perlu lebih aktif menjelaskan dampak ekonomi program agar tidak muncul spekulasi liar, termasuk soal tudingan MBG memperbesar utang negara. Penjelasan yang dibutuhkan harus berbasis data, bukan sekadar janji-janji politik.

"Masyarakat butuh penjelasan yang rasional. Kalau pemerintah bisa menjelaskan dengan baik, masyarakat pasti merespons positif," ujarnya, Jumat (15/5/2026).

Imamudin menilai masyarakat sebenarnya memiliki logika sederhana dalam menilai program pemerintah. Mereka hanya ingin melihat bukti nyata manfaat yang terukur, bukan retorika kosong tentang kebaikan program.

"Kalau ada tuduhan MBG memperbesar utang maka jawabannya harus berbasis data. Sejauh mana MBG meningkatkan kesehatan siswa, konsentrasi belajar, prestasi belajar, kesehatan fisik, lalu sejauh mana program ini menyerap komoditas lokal dan meningkatkan kesejahteraan petani, peternak, dan nelayan. Itu yang perlu dijelaskan pemerintah," ujarnya.

Isu utang negara harus ditempatkan dalam konteks kebijakan fiskal nasional menurut akademisi ini. Pertanyaan yang seharusnya dijawab pemerintah bukanlah soal ada atau tidaknya utang, melainkan untuk apa defisit anggaran dialokasikan dan apa dampaknya bagi rakyat.

"Fenomena utang itu realitas negara berkembang karena kita menganut politik defisit anggaran. Pertanyaannya bukan ada atau tidak ada utang, tapi defisit itu dialokasikan untuk apa dan dampaknya apa bagi masyarakat," katanya.

Evaluasi menyeluruh dinilai mendesak dilakukan dengan melibatkan perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, pemerintah daerah, serta pelaku usaha lokal. Evaluasi harus mencakup seluruh rantai pelaksanaan dari pengadaan bahan baku, distribusi, pengolahan, hingga makanan sampai ke tangan siswa untuk mengidentifikasi titik-titik rawan.

Kajian akademik juga diperlukan untuk mengukur dampak multiplier effect MBG terhadap peningkatan pendapatan petani, nelayan, pedagang pasar, hingga UMKM. Tanpa kajian mendalam, klaim pemerintah tentang manfaat program hanya akan dianggap sebagai propaganda semata.

Di sisi lain, Imamudin mengapresiasi langkah Kementerian Pertanian yang mendorong optimalisasi penggunaan telur dalam menu MBG. Langkah ini dinilai dapat membantu peternak ayam petelur yang menghadapi penurunan harga akibat kelebihan produksi.

"Program MBG bisa menjadi bantalan pasar. Ketika produksi telur melimpah dan harga turun, negara hadir melalui skema penyerapan untuk menjaga keseimbangan harga sekaligus melindungi peternak," katanya.

Pilihan Redaksi

Bantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus RuhyaniImigrasi

Bantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani

VOICE Indonesia· 16 July 2026
Lihat berita ini di Google News
Ikuti VOICE Indonesia di Google News untuk update terbaru
Channel WhatsApp
Dapatkan Berita VOICE Indonesia Langsung di WhatsApp
Follow

⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.

Baca Juga

Komentar (0)

Login dulu untuk meninggalkan komentar.