VOICE Indonesia
Nasional

Bahan Baku Jadi Tantangan Utama Implementasi SAF Pertamina

Sintia Nur Afifah - VOICEIndonesia.co
Bahan Baku Jadi Tantangan Utama Implementasi SAF Pertamina
Bahan Baku Jadi Tantangan Utama Implementasi SAF Pertamina
VOICEINDONESIA.CO, Brussel - Tantangan utama pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) Pertamina untuk pasar global bukan lagi pada teknologi pengolahan, melainkan ketersediaan bahan baku berkelanjutan. Padahal Indonesia memiliki potensi besar dari limbah seperti minyak jelantah dan residu POME yang dapat menjadi sumber pasokan SAF tanpa bersaing dengan pangan. Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono mengungkapkan, tantangan pengembangan SAF global saat ini sudah bergeser dari teknologi ke ketersediaan bahan baku. Jika dikelola dengan prinsip keberlanjutan dan sertifikasi ketat, limbah Indonesia dapat menjadi sumber pasokan SAF global yang kredibel. "Pasar wajib memberikan kepastian permintaan struktural – yang sangat penting untuk jangka panjang, sementara voluntary market mempercepat adopsi dan inovasi," ujarnya dalam keterangan yang diterima Voiceindonesia.co, Sabtu (28/2/2026). Agung menekankan pentingnya kepastian regulasi, harmonisasi standar karbon lintas negara, serta penguatan skema sertifikasi agar SAF Indonesia dapat diakui di pasar global. Ketersediaan bahan baku berkelanjutan menjadi kunci utama agar Pertamina bisa bersaing di pasar internasional. "Kuncinya ada pada regulasi yang jelas, sistem sertifikasi yang kuat, dan harmonisasi standar internasional," jelasnya. Pertamina kini menargetkan pasar penerbangan regional dan global, termasuk Eropa dan Asia-Pasifik. Kehadiran Pertamina dalam forum internasional ISCC Global Sustainability Conference 2026 di Brussel, Belgia, menunjukkan Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga bagian dari solusi global dalam dekarbonisasi sektor penerbangan.

Baca Juga : Pertamina Targetkan Bisa Produksi Bioavtur 887 Kiloliter per Hari di 2029 "Forum ini mempertemukan produsen SAF global, pelaku industri penerbangan, dan pemangku kepentingan keberlanjutan dunia. Kehadiran Pertamina di forum ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga bagian dari solusi global," ujarnya. Seluruh rantai nilai SAF Pertamina telah tersertifikasi ISCC mulai dari pengumpulan bahan baku, proses pemurnian, hingga penyimpanan dan distribusi. Sertifikasi ini menjamin ketelusuran penuh, mencegah penghitungan ganda, serta memenuhi standar keberlanjutan dan akuntansi karbon internasional. "Fokus kami bukan hanya pada produksi SAF, tetapi juga pada pembangunan ekosistem SAF yang kredibel, terukur, dan diakui secara global, serta menghubungkan pengumpulan bahan baku tingkat komunitas di Indonesia dengan pasar penerbangan internasional," tegas Agung. Pengembangan SAF di Pertamina merupakan bentuk integrasi dari strategi transformasi bisnis perusahaan untuk mengoptimalkan aset kilang eksisting sekaligus membangun bisnis rendah karbon. Langkah ini merupakan upaya nyata dalam mendukung transisi energi Indonesia sekaligus memperkuat daya saing global. Baca Juga : Pertamina Mulai Konstruksi Pabrik Bioetanol dan Biorefinery "Di Pertamina, SAF bukanlah inisiatif yang berdiri sendiri, melainkan implementasi langsung dari strategi dual-growth kami, yaitu memaksimalkan aset kilang warisan sambil membangun bisnis rendah karbon yang dapat dikembangkan," jelasnya. Pertamina memproduksi SAF melalui teknologi co-processing menggunakan minyak jelantah di Green Refinery Cilacap dengan kandungan campuran sekitar 2,4%. Journey pengembangan bioavtur ini telah dimulai sejak 2015 dengan penelitian katalis domestik dan telah melewati uji teknis pada pesawat Airbus A320-200 milik Pelita Air Services. "Kami telah menyelesaikan validasi teknis di berbagai jenis pesawat, termasuk pesawat jet komersial dengan maskapai penerbangan Indonesia, Pelita Air Services. Pelita Air telah mencoba menggunakan SAF untuk penerbangan domestik dan penerbangan internasional," paparnya. Pertamina membangun rantai pasok terintegrasi mulai dari pengumpulan UCO dari rumah tangga dan sektor komersial, pengolahan di kilang, hingga distribusi ke maskapai. Seluruh rantai nilai tersebut telah tersertifikasi ISCC untuk menjamin keberlanjutan serta kepatuhan terhadap standar internasional. Saat ini Pertamina tengah ekspansi skala komersial SAF melalui proyek Biorefinery Cilacap Fase 2 yang ditargetkan memasuki fase on stream pada 2029. Peningkatan kapasitas ini diarahkan untuk mendukung kebijakan mandatori campuran SAF 1% untuk penerbangan internasional dari Indonesia mulai 2027, sekaligus membuka peluang ekspor ke pasar Asia Pasifik dan Eropa. Dalam diskusi panel internasional "Behind the Blend: The Producers Making Net-Zero Aviation Possible" pada ISCC Global Sustainability Conference 2026, Pertamina berbagi panggung dengan para pemimpin produsen SAF global seperti Neste, EcoCeres, dan Montana Renewables. Melalui pengembangan SAF, Pertamina menegaskan perannya tidak hanya dalam menurunkan emisi sektor penerbangan, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional, menciptakan nilai ekonomi domestik, serta mempercepat kolaborasi global menuju penerbangan rendah karbon. (Sin/Ri) Pilihan Redaksi : Menguji Keseriusan Negara: Segera Sahkan Perubahan Ketiga UU PMI dan Ratifikasi ILO C188!

Baca Berita Lainnya di Google News

Pilihan Redaksi

Bantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus RuhyaniImigrasi

Bantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani

VOICE Indonesia· 16 July 2026
#Bahan Baku#Pertamina#SAF Pertamina
Lihat berita ini di Google News
Ikuti VOICE Indonesia di Google News untuk update terbaru
Channel WhatsApp
Dapatkan Berita VOICE Indonesia Langsung di WhatsApp
Follow

⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.

Baca Juga

Komentar (0)

Login dulu untuk meninggalkan komentar.