VOICE Indonesia
News

12 Pekerja Migran dari Berbagai Negara Jadi Korban Perang di Timur Tengah

Sintia Nur Afifah - VOICEIndonesia.co
12 Pekerja Migran dari Berbagai Negara Jadi Korban Perang di Timur Tengah
12 Pekerja Migran dari Berbagai Negara Jadi Korban Perang di Timur Tengah
VOICEINDONESIA.CO, Jakarta - Sudah 12 pekerja migran tewas di negara Teluk akibat agresi AS-Israel ke Iran hingga Senin (10/3/2026). Mereka berasal dari Bangladesh, Nepal, dan Pakistan yang menjadi korban dalam serangan balasan Iran ke arah Uni Emirat Arab. Di tengah konflik, banyak pekerja Indonesia dilarang pulang atau ditinggal majikan yang mengungsi. Direktur Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo mengungkapkan eskalasi di Timur Tengah belum terlihat berakhir dalam waktu dekat. Ada ratusan ribu pekerja migran Indonesia dalam situasi tidak aman, termasuk tiga ABK Indonesia di kapal angkutan minyak yang hilang di Selat Hormuz dan belum selesai penanganannya. Pemerintah RI dinilai Migrant Care abai dalam memastikan keselamatan pekerja migran Indonesia. Wahyu mendesak pemerintah tidak bersikap biasa dan perlu meningkatkan kewaspadaan tinggi, terutama untuk mereka yang tidak berdokumen dan overstay sehingga di luar kontrol. "Ada ratusan ribu pekerja migran Indonesia dalam situasi tidak aman. Sudah ada tiga ABK Indonesia di kapal angkutan minyak yang belum selesai penanganan," kata Wahyu, Jumat (13/3/2026). Wahyu menerima pengaduan bahwa banyak pekerja Indonesia dilarang pulang untuk Lebaran atau meninggalkan rumah majikan di saat majikan mengungsi. Kondisi ini membuat nasib pekerja migran Indonesia semakin rentan dalam konflik Timur Tengah, terutama mereka yang tidak mendapat update situasi dan tidak bebas bergerak. "Mereka yang paling rentan adalah yang tidak berdokumen dan overstay sehingga di luar kontrol, tidak mendapat update situasi dan tidak bebas bergerak," ujarnya. Para pekerja migran terdampak perang tercatat di Kuwait, Oman, dan Bahrain akibat serangan balasan Iran terhadap agresi AS-Israel. Mereka sebagian besar bekerja di sektor konstruksi atau rumah tangga dan mengalami kesulitan mendapat akses ke tempat perlindungan saat terjadi serangan udara.

Baca Juga : Pelaku Usaha Mulai Menderita Kenaikan Ongkos Angkut Akibat Perang di Timur Tengah Sebagian negara tempat bekerja memberlakukan sistem Kafala (sponsor) sehingga pekerja dibatasi mobilitasnya, paspor ditahan, dan rawan terkena eksploitasi. Meski situasi kerja cukup berat, para pekerja migran terpaksa bertahan karena takut kehilangan izin kerja, gaji tidak dibayar, atau tidak memiliki pekerjaan di negara asal. Di beberapa negara Teluk, pekerja migran mencapai 80-90 persen dari seluruh penduduk. Selain pekerja di daratan, sekurangnya 6.000 pelaut Filipina juga masih tertahan di atas kapal tanker dan sejumlah kapal niaga yang berada di Teluk Persia.

Sejak Israel dan Amerika Serikat menyerang Iran pada 28 Februari lalu, puluhan ribu orang memilih meninggalkan negara Teluk. Namun sebaliknya, dalam situasi tidak pasti dan penuh bahaya, pekerja migran Bangladesh justru berdatangan ke kawasan Teluk demi menghidupi keluarga di kampung. (Sin/Ri)

Pilihan Redaksi : Menakar Urgensi Transformasi Total KemenP2MI demi Perlindungan Paripurna Baca Berita Lainnya di Google News

Pilihan Redaksi

Anggaran Penanganan Korban di Komnas Perempuan Jadi SorotanNasional

Anggaran Penanganan Korban di Komnas Perempuan Jadi Sorotan

Afifah· 16 July 2026
#Konflik Timur Tengah#MIGRANT CARE#pekerja migran
Lihat berita ini di Google News
Ikuti VOICE Indonesia di Google News untuk update terbaru
Channel WhatsApp
Dapatkan Berita VOICE Indonesia Langsung di WhatsApp
Follow

⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.

Baca Juga

Komentar (0)

Login dulu untuk meninggalkan komentar.