
Pekerja Indonesia di Timur Tengah Alami Trauma Psikologis

Baca Juga : Lindungi dari Hulu ke Hilir, Pemerintah Canangkan Kampanye Nasional PMI 2026 "Dan kami telah membangun krisis center dan kita sudah membangun, sudah memanjakan hotline laporan dari pendapatan migran jika ada sesuatu, segera kita laporkan. Dan KBRI juga proaktif menyampaikan informasi, baik di seluruh kanal-kanal media, baik di sosmed maupun informasi masing-masing," katanya. Mukhtaurdin mengungkapkan jumlah PMI di Iran tidak banyak, paling sekitar ratusan orang yang bekerja secara mandiri sebagai domestic workers. Iran bukan salah satu negara tujuan penempatan resmi mengingat situasi keamanan yang tidak baik. "Di Iran ada. Ada tapi tidak banyak. Dan itu bukan penempatan kita ya. Ini penempatan secara mandiri mereka. Karena memang Iran kan bukan salah satu tujuan negara penempatan ya. Karena memang situasinya tidak baik untuk kondisi keamanannya. Tapi ada, tapi tidak banyak. Angkanya mungkin paling seratusan," tegasnya. Kondisi PMI di Iran saat ini masih dalam kontrol pemerintah Iran dan perwakilan Indonesia. Belum ada laporan yang mengkhawatirkan dan belum ada instruksi evakuasi dari KBRI di Iran, sehingga semuanya masih dalam kondisi under control. Baca Juga : Kemenp2MI Bentuk Tim Crisis Monitoring dan Hotline Khusus Timur Tengah Mukhtaurdin menambahkan kemarin sudah mendapat video dari PMI di Iran yang sedang jalan-jalan. Mereka mengatakan kondisi di sana biasa-biasa saja, masih bisa jalan-jalan, puasa, dan anak mereka masih sekolah seperti biasa. "Kemarin juga sudah dapat, dapat apa? Dapat vlog, dapat video dari teman-teman kita di Iran. Mereka sedang bikin video sambil jalan-jalan. Dia bilang, kami disini biasa-biasa aja. Kami jalan. Kami ke puasa. Anak saya saya juga baru, anak saya sekolah. Jadi ya, artinya Alhamdulillah itu memberikan ketenangan ya, bagi kita," jelasnya. Meski demikian, pemerintah tetap memantau perkembangan mengingat eskalasi terus meningkat. Langkah-langkah darurat sudah dipersiapkan bersama perwakilan Indonesia dengan KBRI di depan dan KemenP2MI sebagai supporting untuk sosialisasi kepada keluarga pekerja migran di Indonesia. "Tapi tetap kita pantau. Meskalasinya kan meningkat terus. Ini kan tidak... Dan langkah-langkah langkah-langkah darurat sudah kita persiapkan. Tentu bersama perwakilan kita. Jadi, KJRI di depan, KBLI di depan, kita supporting daripada itu untuk sosiasi kepada keluarga-keluarga pekerjaan migran yang ada di Indonesia," pungkasnya. (Sin/Ri) Pilihan Redaksi : Ekstradisi Atau Represi: Jangan Manjakan Kriminal Siber
Baca Berita Lainnya di Google NewsPilihan Redaksi
NasionalAnggaran Penanganan Korban di Komnas Perempuan Jadi Sorotan
⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.
Baca Juga
Komentar (0)
Login dulu untuk meninggalkan komentar.
Paling Banyak Dibaca

Bahlil: Blok Masela Serap 12 Ribu Tenaga Kerja, Prioritaskan Putra Daerah Maluku
Ketenagakerjaan

Dua Pelaut India Tewas di Selat Hormuz, New Delhi Larang Kapalnya Lewati Selat
Internasional

Produsen Kosmetik Ilegal di Kota Malang dan Kediri Digerebek
Daerah

Jersey Pramusim 2026 persembahan untuk legenda Persebaya Eri Irianto
Olahraga

Anggaran Penanganan Korban di Komnas Perempuan Jadi Sorotan
Nasional
Editorial

Darurat TPPO: Kedubes Arab Saudi Harus Ikut Bertanggungjawab
Editorial

Mengawal Hak Asasi Pelaut Kita dan Peran Vital SPPI di Laut Lepas Taiwan
Editorial

Manipulasi Dokumen: Awal Petaka Pekerja Migran Indonesia
Editorial

Kawal Revisi UU PPMI Demi Keselamatan Pekerja Migran
Editorial

Darurat Mafia Paspor, Dirjen Imigrasi Harus Tegas
Editorial
Komentar Terbaru
Belum ada komentar.

