VOICEINDONESIA.CO, Banda Aceh – Peserta pelatihan budidaya ikan air tawar program SMK Go Global di Aceh menyiapkan keterampilan untuk bekerja di Malaysia dan Brunei Darussalam.
Muhammad Ichsan dari Aceh Tamiang dan Rizki Aulia Ramadhana dari Sabang mengetahui program itu lewat Instagram BP3MI Aceh. Keduanya mengikuti pelatihan budidaya ikan air tawar.
“Saya ingin mengembangkan skill saya di bidang perikanan. Di kampung saya banyak masyarakat yang melakukan budidaya ikan, jadi saya ingin tahu lebih banyak ilmunya dan mengembangkan skill saya,” ujar Ichsan usai dalam keterangan yang diterima, Sabtu (3/10/2026).
Ichsan menyatakan belum pernah mempelajari budidaya ikan secara langsung. Ia belajar menyiapkan wadah, mengenali induk ikan, memahami pemijahan, hingga membuat pakan.
Ia menyebut membuat pakan menjadi pengalaman yang paling terasa. Kadang ia harus bertanya kepada instruktur karena istilah budidaya masih asing baginya.
Ichsan kini bersiap bekerja di bidang budidaya ikan air tawar di Malaysia. Ia ingin membawa pulang ilmu untuk dibagikan di kampungnya dan memberikan hasil kerjanya kepada orang tua.
Rizki memiliki bekal ilmu kelautan dari pendidikan tinggi. Ia melihat budidaya ikan masih berkaitan dengan ilmu yang ia pelajari.
Rizki menyebut penyuntikan perangsang pada induk ikan untuk pemijahan sebagai hal baru yang tidak mudah baginya. Ia juga belajar bahwa budidaya mencakup persiapan wadah, pemilihan induk, perawatan telur dan larva, hingga penjagaan kualitas air dan pakan.
“Di BP3MI Aceh ini ada wadah yang siap memberangkatkan kita ke luar negeri. Bagi yang mau berusaha, pasti bisa,” ujarnya.
Rizki bersiap untuk peluang penempatan di Malaysia dan Brunei Darussalam. Jika berhasil bekerja di luar negeri, ia ingin memberikan yang terbaik untuk orang tuanya.
Instruktur pelatihan, Edi Miswar, mendampingi peserta sejak mengenal dasar budidaya hingga mampu berpraktik mandiri. Ia menyebut tidak semua peserta berlatar belakang perikanan.
Edi menjelaskan peserta lebih dulu mempelajari keselamatan dan kesehatan kerja. Setelah itu, mereka belajar menyiapkan wadah, memilih induk, melakukan pemijahan, dan merawat telur serta larva.
Pada praktik pemijahan semi-intensif, peserta memberi rangsangan kepada induk ikan, lalu memantau telur hingga menetas menjadi larva.
“Alhamdulillah larvanya terlihat sehat, lincah dan bagus,” ujar Edi, merujuk pada kondisi larva pada hari keempat.
Edi menambahkan peserta juga mempelajari pakan, kualitas air, dan penghitungan formulasi pakan sesuai pertumbuhan ikan. Materi itu dilengkapi analisis usaha.
Menurut pengamatannya, sekitar 80 persen peserta sudah mampu berpraktik lebih mandiri.
“Kalau terjadi kendala, mereka sudah bisa berimprovisasi supaya tidak gagal. Kalau benar-benar tidak bisa, mereka akan bertanya,” katanya.
Edi berharap keterampilan peserta dapat dipraktikkan dan dikembangkan di kampung masing-masing sambil menunggu kesempatan bekerja ke luar negeri.



























