VOICE Indonesia
Internasional

16.000 Pasien Kanker di Kuba Tidak Bisa Berobat Akibat Embargo Amerika

Sintia Nur Afifah - VOICEIndonesia.co
16.000 Pasien Kanker di Kuba Tidak Bisa Berobat Akibat Embargo Amerika
16.000 Pasien Kanker di Kuba Tidak Bisa Berobat Akibat Embargo Amerika
VOICEINDONESIA.CO, New York - Kebijakan Amerika Serikat yang melarang masuknya minyak dari Venezuela ke Kuba memicu krisis kemanusiaan yang mengancam 16.000 pasien kanker. Kelangkaan bahan bakar akibat embargo membuat radioterapi terhenti, sementara lebih dari 12.000 pasien bergantung kemoterapi tidak dapat memperoleh perawatan. Juru bicara utama Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Stephane Dujarric, menyatakan situasi Kuba semakin memburuk dipicu ketidakmampuan mengimpor bahan bakar. Kondisi ini telah memicu krisis energi yang menyeret negara pulau tersebut ke jurang krisis kemanusiaan akibat blokade ekonomi yang berlangsung puluhan tahun. Pemerintah AS bulan lalu mengizinkan sejumlah pasokan minyak masuk ke Kuba, namun hanya boleh dijual ke sektor swasta bukan pemerintah. Kebijakan setengah hati ini tidak menyelesaikan masalah karena fasilitas kesehatan milik pemerintah tetap tidak bisa mengakses bahan bakar untuk operasional rumah sakit. "Kami tetap sangat prihatin dengan memburuknya situasi yang dipicu oleh ketidakmampuan untuk mengimpor bahan bakar," kata Dujarric dalam pengarahan, Selasa (10/3/2026). Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan fasilitas rumah sakit kerap mengalami pemadaman listrik, kekurangan stok obat-obatan penting, dan ketidakmampuan mengoperasikan peralatan krusial. Gangguan serius terjadi dalam perawatan onkologi, dialisis, layanan gawat darurat, perawatan ibu dan bayi, sistem rantai dingin, serta perawatan kronis dan nondarurat. Ambulans mengalami kesulitan mendapatkan bahan bakar yang menyebabkan tertundanya perawatan darurat. Hampir 1 juta orang bergantung pada air yang diantarkan truk tangki air yang juga membutuhkan bahan bakar untuk beroperasi, namun terkendala kelangkaan akibat embargo AS.

Baca Juga : Penuaan Penduduk Dunia Jadi Peluang PMI Kerja di Luar Negeri "Hal ini telah memicu krisis energi," sambung Dujarric. OCHA melaporkan lebih dari 80 persen infrastruktur pemompaan air bergantung pada listrik yang mengakibatkan gangguan layanan secara luas dan berkepanjangan. Rantai pasokan makanan dari produksi hingga penyimpanan dan distribusi semakin terdampak dengan sistem rantai dingin mengalami gangguan. Badan dunia tersebut berkoordinasi dengan negara-negara anggota termasuk Amerika Serikat agar bantuan dapat disalurkan tanpa hambatan. Namun kelangkaan bahan bakar membatasi pengoperasian truk makanan dan air, dengan puluhan kontainer berisi bantuan masih menunggu di pelabuhan karena tidak ada kendaraan yang bisa mengangkutnya. Larangan Washington terhadap masuknya minyak dari Venezuela ke Kuba semakin memperparah kelangkaan bahan bakar di negara tersebut. Para mitra kemanusiaan PBB terus berupaya membantu namun terkendala keterbatasan mobilitas akibat krisis energi yang dipicu kebijakan embargo AS yang berkepanjangan. (Sin/Ri) Pilihan Redaksi : Menjaga Netralitas: Polri Wajib di Bawah Komando Langsung Presiden

Baca Berita Lainnya di Google News

Pilihan Redaksi

Bantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus RuhyaniImigrasi

Bantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani

VOICE Indonesia· 16 July 2026
#Konflik AS-Venezuela#Pasien kanker#PBB
Lihat berita ini di Google News
Ikuti VOICE Indonesia di Google News untuk update terbaru
Channel WhatsApp
Dapatkan Berita VOICE Indonesia Langsung di WhatsApp
Follow

⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.

Baca Juga

Komentar (0)

Login dulu untuk meninggalkan komentar.