
Konglomerat dan Bos Djarum, Michael Bambang Hartono Tutup Usia

Baca Juga : PMI Asal Sumbawa Meninggal Setelah Dideportasi dari Malaysia "(Tanggal) 25 Maret dikebumikan, jam menyusul," ujarnya. Seiring waktu, bisnis keluarga Hartono berkembang pesat menjadi konglomerasi besar yang merambah berbagai sektor strategis. Tidak hanya bertumpu pada industri tembakau, kelompok usaha ini mulai melakukan diversifikasi. Pada 1975, mereka masuk ke sektor elektronik melalui merek Polytron. Ekspansi kemudian berlanjut ke berbagai sektor lain, seperti perkebunan, properti, infrastruktur digital, hingga bisnis menara telekomunikasi. Langkah strategis berikutnya dilakukan di sektor perbankan melalui konsorsium FarIndo Investments. Hartono bersaudara mengakuisisi Bank Central Asia (BCA) pada awal 2000-an, pasca Krisis Finansial Asia 1997–1998. Akuisisi ini menjadi salah satu keputusan bisnis paling signifikan, mengingat BCA kemudian tumbuh menjadi bank swasta terbesar di Indonesia dengan basis nasabah ritel yang kuat. Selain perbankan, kelompok usaha Hartono juga memiliki portofolio luas di sektor properti komersial, termasuk gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan di Jakarta. Michael sempat mengenyam pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro pada 1959. Namun, ia harus menghentikan studinya dan kembali ke Kudus setelah ayahnya wafat pada 1963 untuk melanjutkan bisnis keluarga bersama saudaranya. Keberhasilan membangun konglomerasi lintas sektor menempatkan Michael Bambang Hartono dalam jajaran orang terkaya di Indonesia dan dunia. Berdasarkan data Forbes, kekayaannya diperkirakan mencapai sekitar 17,5 miliar dolar AS, yang sebagian besar berasal dari kepemilikan saham di BCA. Baca Juga : Tragis! 127 PMI Asal NTT Meninggal di Luar Negeri, Mayoritas Berangkat Ilegal Di luar dunia bisnis, Michael dikenal sebagai pecinta olahraga bridge. Ia bahkan berprestasi dengan meraih medali perunggu pada Asian Games 2018 di nomor supermixed team, serta aktif dalam pembinaan olahraga tersebut di Indonesia. Dalam kehidupan pribadi, Michael Bambang Hartono menikah dan memiliki empat anak. Ia tetap menetap di Kudus, kota kelahirannya yang menjadi pusat awal pertumbuhan bisnis keluarga. Selama lebih dari setengah abad, Michael dikenal sebagai sosok yang konsisten mengembangkan warisan keluarga menjadi kekuatan bisnis besar di Indonesia. Kiprahnya tidak hanya membentuk lanskap industri modern Indonesia, tetapi juga meninggalkan pengaruh luas dalam dunia usaha dan investasi. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga dan perusahaan, tetapi juga bagi dunia bisnis nasional. (Sin/Ri) Pilihan Redaksi : Berhenti Memanjakan “Scammer”, Saatnya Indonesia Meniru Ketegasan Korea Selatan
Baca Berita Lainnya di Google NewsPilihan Redaksi
ImigrasiBantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani
⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.
Baca Juga
Komentar (0)
Login dulu untuk meninggalkan komentar.
Paling Banyak Dibaca

Bahlil: Blok Masela Serap 12 Ribu Tenaga Kerja, Prioritaskan Putra Daerah Maluku
Ketenagakerjaan

Dua Pelaut India Tewas di Selat Hormuz, New Delhi Larang Kapalnya Lewati Selat
Internasional

Produsen Kosmetik Ilegal di Kota Malang dan Kediri Digerebek
Daerah

Jersey Pramusim 2026 persembahan untuk legenda Persebaya Eri Irianto
Olahraga

Anggaran Penanganan Korban di Komnas Perempuan Jadi Sorotan
Nasional
Editorial

Darurat TPPO: Kedubes Arab Saudi Harus Ikut Bertanggungjawab
Editorial

Mengawal Hak Asasi Pelaut Kita dan Peran Vital SPPI di Laut Lepas Taiwan
Editorial

Manipulasi Dokumen: Awal Petaka Pekerja Migran Indonesia
Editorial

Kawal Revisi UU PPMI Demi Keselamatan Pekerja Migran
Editorial

Darurat Mafia Paspor, Dirjen Imigrasi Harus Tegas
Editorial
Komentar Terbaru
Belum ada komentar.



