Nasional

Nadiem Singgung Kurang Sowan ke Tokoh Politik Dalam Nota Pembelaan

Sintia Nur Afifah - VOICEIndonesia.co02 Juni 2026 pukul 16.45 WIB
Nadiem di ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat saat menjalani proses persidangan kasus Chromebook
Mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim(Foto: Voiceindonesia.co/Ist)
Iklan
Temukan lebih banyak
Sejarah
Referensi Geografis
Peta

VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim mengakui pendekatan yang terlalu berorientasi pada perubahan cepat membuat dirinya kurang merangkul banyak pihak selama menjabat. Pengakuan itu disampaikannya saat membacakan pleidoi atau nota pembelaan dalam sidang kasus dugaan korupsi program digitalisasi pendidikan.

"Saya begitu gigih melakukan transformasi dengan cepat, saya kurang merangkul pihak-pihak lama dalam upaya perubahan tersebut," ujar Nadiem, Selasa (2/6/2026)

Iklan
Temukan lebih banyak
Panduan Kota & Daerah
Sejarah
Referensi Geografis

Menurut Nadiem, dorongan untuk mempercepat berbagai program membuatnya kurang memperhatikan aspek politik dan hubungan antarlembaga yang justru berperan penting dalam menjaga keberlanjutan kebijakan.

Ia menilai pendekatan yang biasa diterapkan di dunia profesional tidak selalu dapat diterapkan dalam pemerintahan. Sejumlah sikap yang dianggap efisien di sektor swasta justru memunculkan persepsi berbeda ketika dirinya berada di lingkungan birokrasi.

"Saya juga kurang sowan ke berbagai tokoh karena saya tidak memahami seluk-beluk peta politik," katanya.

Nadiem mengakui kerap menolak undangan yang tidak berkaitan langsung dengan program kerjanya. Dalam sejumlah pertemuan, ia juga sering mempersingkat basa-basi dan memilih langsung masuk ke substansi pembahasan.

Sikap tersebut, menurutnya, kemudian dianggap sebagai bentuk ketidaksantunan dan kurang menghargai tata krama politik yang berlaku di lingkungan pemerintahan.

Ia bahkan mengaku baru menyadari bahwa jabatan menteri bukan sekadar posisi profesional, melainkan juga jabatan politik yang menuntut kemampuan membangun hubungan dengan berbagai pihak.

"Karena gesekan kecil bisa menjadi dendam besar," tuturnya.

Iklan

Nadiem mengatakan pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bagi generasi yang ingin mengabdi kepada negara. Menurutnya, profesionalisme perlu diimbangi dengan kemampuan menjaga komunikasi dan hubungan politik agar perubahan yang dijalankan mendapat dukungan lebih luas.

Dalam perkara ini, Nadiem menjadi terdakwa kasus dugaan korupsi program digitalisasi pendidikan melalui pengadaan laptop Chromebook dan Chrome Device Management (CDM) periode 2019-2022. Ia sebelumnya dituntut pidana penjara 18 tahun dan didakwa menyebabkan kerugian negara sebesar Rp2,18 triliun.

Pilihan Redaksi

Skandal Paspor Sukabumi: Usia Dipangkas, Imigrasi Pilih Bungkam! Imigrasi

Skandal Paspor Sukabumi: Usia Dipangkas, Imigrasi Pilih Bungkam!

VOICE Indonesia·30 May 2026

Suka artikel ini? Beri apresiasi untuk sang penulis.

Berikan tanda suka secara gratis, atau kirim tips agar penulis tetap semangat.

Channel WhatsApp
Dapatkan Berita VOICE Indonesia Langsung di WhatsApp
Follow
#Tags:#Nasional

⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.

Artikel Terkait

Nasional

Komentar (0)

Login dulu untuk meninggalkan komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

UMKM Showcase

Dukung usaha lokal Indonesia — ribuan UMKM terdaftar

Partner Kolaborasi
PusatRilis.id

Featured UMKM

UMKM Lainnya

Gratis

Citizen Journalism

Berita dari Warga untuk Warga

Punya Berita Menarik di Sekitarmu?

Bagikan cerita, foto, atau video kejadian di lingkunganmu. Suaramu penting untuk masyarakat!

Kirim Berita Sekarang

Made with Emergent

-->-->
Original text
Rate this translation
Your feedback will be used to help improve Google Translate
-->