
Kanada Jadi Prototipe Penempatan Tenaga Kesehatan Indonesia

VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Proyek strategis ini direncanakan memulai tahap rekrutmen pada November 2026, dengan target keberangkatan dan penempatan tenaga kerja profesional pada triwulan kedua tahun 2027 mendatang.
Langkah ini diambil setelah Wakil Menteri P2MI, Christina Aryani, menggelar pertemuan bilateral bersama Duta Besar RI untuk Kanada, Muhsin Syihab, di Jakarta, Senin (29/6/2026).
Kerja sama ini diproyeksikan tidak hanya sekadar pemenuhan kebutuhan medis, melainkan menjadi prototipe atau model standar penempatan berkualitas yang nantinya akan direplikasi ke provinsi-provinsi lain di Kanada yang memiliki karakteristik pasar serupa.
"Terdapat kebutuhan tenaga kesehatan di New Brunswick. Proses rekrutmen direncanakan dimulai pada November 2026, dengan target penempatan pada triwulan II tahun 2027. Kami siap membantu memfasilitasi proses tersebut," ujar Christina.
Dalam peta persaingan global, sektor kesehatan di Kanada saat ini masih didominasi oleh pekerja asal Filipina yang memiliki jaringan penempatan sangat mapan.
Menyadari tantangan tersebut, Christina menegaskan bahwa Indonesia harus mampu menyodorkan keunggulan kompetitif, terutama dari sisi sertifikasi profesi dan standar kompetensi yang ketat agar mampu menembus dominasi pasar tersebut.
"Bapak Dubes menyampaikan harapannya agar kerja sama dengan New Brunswick dapat menjadi prototipe atau benchmark yang nantinya bisa direplikasi dan ditawarkan kepada provinsi-provinsi lain di Kanada. Kami tentu mendukung upaya tersebut," katanya.
Di luar sektor kesehatan, pemerintah kini juga mulai melirik celah di sektor-sektor industri berat yang membutuhkan tenaga terampil (skilled workers).
Peluang penempatan pekerja migran di bidang konstruksi, khususnya tenaga tukang las (welder), dinilai memiliki prospek yang sangat cerah mengingat tingginya permintaan tenaga ahli di Kanada.
"Kita perlu membuka pilot project agar Indonesia dapat semakin dikenal dan mampu menembus pasar kerja Kanada," ujarnya.
Sinergi antara Kementerian P2MI dan KBRI Ottawa akan terus ditingkatkan untuk memastikan seluruh proses penempatan berjalan melalui jalur legal dan aman.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam menggeser fokus penempatan pekerja migran dari sektor informal ke sektor formal yang memiliki perlindungan lebih baik serta menawarkan jenjang karier dan kesejahteraan yang lebih menjanjikan bagi putra-putri terbaik bangsa.
"Kami akan terus memperkuat sinergi dengan seluruh perwakilan RI di luar negeri untuk membuka pasar-pasar kerja baru yang berkualitas. Harapannya, semakin banyak pekerja migran Indonesia dapat mengakses pekerjaan yang aman, legal, dan memberikan nilai tambah bagi peningkatan kompetensi maupun kesejahteraan mereka," pungkas Christina Aryani.
Pilihan Redaksi
ImigrasiBantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani
⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.
Baca Juga
Komentar (0)
Login dulu untuk meninggalkan komentar.
Paling Banyak Dibaca

BNN Jatim Gagalkan Penyelundupan 5,4 Kilogram Sabu dari Malaysia
Daerah

Selat Hormuz Tetap Ditutup Sebelum AS Terima Syarat dari Iran
Internasional

Bansos Bakal Disalurkan Lewat Kopdes
Ekonomi

RI Usul Keterampilan Masa Depan Jadi Salah Satu Fokus Kerja Sama BRICS
Ketenagakerjaan

Bantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani
Imigrasi
Editorial

Darurat TPPO: Kedubes Arab Saudi Harus Ikut Bertanggungjawab
Editorial

Mengawal Hak Asasi Pelaut Kita dan Peran Vital SPPI di Laut Lepas Taiwan
Editorial

Manipulasi Dokumen: Awal Petaka Pekerja Migran Indonesia
Editorial

Kawal Revisi UU PPMI Demi Keselamatan Pekerja Migran
Editorial

Darurat Mafia Paspor, Dirjen Imigrasi Harus Tegas
Editorial
Komentar Terbaru
Belum ada komentar.



